|
Dalam menafsirkan surat Al-Qoshosh [28], ayat 55-56 yang berbunyi:
أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٥٥)وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ (٥٦)
Artinya: mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".
Hazrat Khalifatul Mushlih Mau’ud ra bersabda,” Dijelaskan, bahwa Ahli Kitab memiliki beberapa kelebihan lain juga, kelebihan pertama:
وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ
Artinya mereka menjauhkan keburukan dengan perlakuan baik, yakni pertama untuk menghapuskan keburukan, mereka mempersembahkan contoh yang baik dihadapan orang-orang dan begitu juga memunculkan keberanian bahwa untuk terhindar dari keburukan bukanlah pekerjaan yang sulit. Kalau kami saja bisa meninggalkan keburukan-keburukan, maka apa susahnya bagi kalian untuk menguasainya? Kedua, untuk menyebarkan kabaikan, mereka mengambil faidah dari nasihat-nasihat yang berkesinambungan supaya keburukan-keburukan dengan sendirinya akan terus terjauh dari otak mereka, sehingga hati mereka akan mengenali setiap keburukan. Ketiga, untuk menghapuskan keburukan, mereka menerapkan kaidah yang bisa memberikan hasil yang baik, yakni setelah mereka memperhatikan, kalaulah sekiranya dengan pemberian maaf, akan terjadi ishlah (perbaikan), maka mereka akan memaafkan orang lain. Kalaulah untuk memperbaiki manusia yang berdosa tidak ada cara lain selain hukuman, maka mereka akan menghukumnya. Tidak seperti halnya taurat yang berupaya untuk menerapkan balas dendam dalam setiap kesempatan dan tidak juga seperti injil yang berupaya untuk selalu memaafkan setiap dosa, tapi mereka menjauhkan keburukan itu setelah melihat waktu dan kesempatan dan itupun dilakukan dengan cara-cara yang akan memberikan hasil yang baik. Keempat, mereka tidak mengambil manfaat dari membalas kezaliman dengan kezaliman, ketidak adilan dengan ketidakadilan, dan kejahatan dengan kejahatan, tapi mereka senantiasa memperhatikan kebenaran, keadilan, ketakwaan dan mengupayakan kebaikan dalam membalas setiap keburukan.
Kelebihan yang kedua dijelaskan bahwa
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Apapun yang kami berikan kepada mereka, kami belajakan sebagiannya. Yakni nikmat apapun yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya, mereka belanjakan untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia, mereka tidak hanya membelanjakan rupiahnya untuk fakir miskin, tapi apapun yang Kami berikan kepada mereka, mereka selalu belanjakan satu bagiannya untuk orang lain. Didalam bahasa Arab rizq artinya segala sesuatu anugerah Allah Ta’ala, sebagaimana harta juga termasuk kedalam rizq, ilmu dan kekuatan juga, rizq yang berarti biji-bijian, itupun termasuk kedalam rizq. Waktu juga termasuk kedalam rizq. Maksudnya rizq adalah segala sesuatu yang memberikan faidah bagi manusia dalam corak apapun. Dengan mengatakan
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
ditekankan bahwa apapun yang Allah Ta’ala berikan, hendaknya dibelanjakan untuk kemaslahatan manusia. Kalau ada orang yang mempunyai keahlian tapi karena tidak berharta sehingga dia tidak bisa memanfaatkan keahliannya, maka kalian tolonglah dari sisi harta. yang tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, berikanlah dia sesuatu untuk dimakan, dia yang tidak punya apa-apa untuk diminum, berikan dia sesuatu untuk diminum. Mereka yang tidak punya sesuatu untuk dipakai, berikanlah sesuatu untuk dipakai. Sesuai dengan hal itu, Hazrat Khalifatul Masih Awwal menyampaikan satu kisah menarik, bahwa ada seorang tua yang sedang terus-menerus membaca Al-Qur’an Karim, dia menggunakan mulutnya untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menggunakan matanya juga untuk melihat kalimat-kalimatnya, dan jari juga menunjuk ayat-ayat seiring pembacaan ayat-ayat. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang sedang kamu lakukan ini?” Dia menjawab, “Allah Ta’ala telah menganugerahkan ketiga bagian tubuh ini, kalaulah aku hanya membacanya (Al-Qur’an) dengan mulut saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan tangan dan mata kamu? Kalau aku hanya menggunakan mulut dan tangan saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak menggunakan mata juga? Dan kalau membaca Al-Qur’an hanya dengan mata saja, tapi tidak menggerakkan mulut dan tangan, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan ini, karena itulah aku menggunakan ketiga bagian tubuh ini dalam satu waktu.”
Maksudnya adalah Allah Ta’ala menjelaskan kelebihan orang-orang yang beriman diantara ahli kitab bahwa didalam hati mereka terdapat kecintaan yang begitu mendalam kepada umat manusia, sehingga apapun yang mereka dapatkan, pasti mereka belanjakan satu bagiannya untuk manfaat dan kemaslahatan orang lain. Dengan hanya memberikan rupiah saja, mereka tidak menganggap bahwa mereka telah melaksanakan hak-hak pengkhidmatan, bahkan mereka mengikut sertakan orang lain juga dalam menikmati setiap pemberian Allah Ta’ala, begitu juga mereka berupaya untuk meninggikan standard kehidupan.
Saya melihat almarhumah ua wanita (kakaknya ayah), meskipun sudah berumur 80 atau 85 tahun, tapi sepanjang tahun tetap saja memintal kapas menjadi benang, lalu di berikan kepada tukang tenun untuk dibuatkan kain, darinya dibuatkan selimut tebal dan kasur yang terbuat dari kapas lalu dibagikan kepada fakir miskin. Diantaranya banyak sekali pekerjaan yang beliau kerjakan dengan tangan sendiri dan kalau kami katakan kepada beliau supaya menyuruh orang lain saja yang mengerjakannya, beliau menjawab,” Kalau begitu rasanya tidak nikmat”. Jadi, Perlu sekali untuk membelanjakan segala pemberian Allah Ta’ala di jalan-Nya. Mereka yang setelah memberikan beberapa rupiah saja lantas beranggapan bahwa hal ini sudah diamalkan, adalah keliru. Orang yang membelanjakan uangnya tapi tidak menggunakan mulutnya untuk bertabligh (menyebarkan Islam), tidak bisa mengatakan bahwa dia sudah mengamalkan dengan sepenuhnya perintah ini. Atau seorang yang betabligh, tapi tidak mengkhidmati janda-janda dan anak yatim, dia pun tidak bisa mengatakan bahwa dia sudah mengamalkan perintah ini dengan baik. Untuk itu perlu juga untuk mengorbankan perasaan kita sendiri di jalan Allah Ta’ala. Misalnya marah kepada seseorang, lalu memafkannya. Didalam perintah ini termasuk juga berbagai macam pekerjaan yang berhubungan dengan khidmat khalq yang seyogyanya diperhatikan secara khusus oleh pemuda-pemudi jemaat kita dan mengkhidmati seluruh umat manusia tanpa membeda bedakan agama dan golongan sesuai standar seorang ahmadi, supaya mereka mendapatkan keridloan Allah Ta’ala.
Kelebihan ketiga yang dijelaskan Allah Ta’ala adalah
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
Kalau mereka mendengar obrolan yang laghou (sia-sia) dari orang yang mengingkari Tuhan yang wahid, maka mereka bertanya kepadanya (orang yang ingkar), “Kenapa kamu memusuhi kami? Kami akan mendapatkan balasan untuk amal-amal kami, kami bersimpati kepada kalian tapi kami tidak menyukai persahabatan dengan seorang yang sangat jahil dan pemarah.”
Didalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan kelebihan orang-orang yang beriman diantara Ahlul kitab bahwa mereka berpaling dari hal-hal yang laghou. Tapi sangat disedihkan pada zaman ini umat Islam yang memiliki kitab Al-Qur’an dan juga muallaf Eropa dan Amerika yang telah disebutkan dalam ayat ini, mereka pergi ke cinema dan teater-teater, alih-alih berpaling dari hal-hal yang laghou (sia-sia) malah mereka terlihat mencintai kelaghouan, padahal Rasulullah saw telah menetapkan terlarang pergaulan antara laki-laki dan wanita, sedangkan theater, kesemuanya merupakan hasil dari pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Kalau mereka tidak bergaul atau menari bersama, maka tidak bisa menjadi sebuah film. Film terjadi jika si laki-laki dan si wanita menari bersama, baru akan menjadi sebuah film. Hal seperti ini adalah tidak jaiz (tidak dibolehkan) dalam pandangan Islam, tapi umat Islam diz aman ini juga mengorbankan jiwanya dalam kelaghouan ini dan orang-orang Eropa, Amerika juga terjerumus dalam kelaghouan ini. Semoga mereka mendapatkan nasihat dan berupaya untuk menciptakan kelebihan-kelebihan ini didalam diri mereka.
(Tafsir Kabir Jilid 7 ,Hal. 523-524)
(Penerjemah: Mahmud Ahmad Wardi)
|
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan cinta-kasih sesama umat manusia.