|
Dalam menafsirkan surat Al Qadr ayat terakhir yang berbunyi:
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ - ٦
“Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda,”Pada dasarnya zaman hanya ada satu, tapi karena perbedaan perbandingan sehingga disebut sebagai zaman malam, dan juga zaman siang. Disebut sebagai zaman malam, karena kegelapan yang pertama dan juga disebabkan karena pada zaman nabi kemajuan secara duniawi tidak sepenuhnya dirasakan. Zaman kesuksesan dan kemajuan datang setelah kewafatan seorang Nabi. Tapi kalau dilihat dari sisi karunia Ilahi yang khas yakni karunia turunnya wahyu dan turunnya keberkatan dan kesempurnaan ruhani (turun pada masa Nabi), jadi zaman itu adalah zaman siang. Karena pada pada zaman itu dunia mahrum dari keberkatan-keberkatan yang sebelumnya selalu dianugerahkan. Walhasil Dari sisi keberkatan ruhani, zamannya nabi adalah zaman siang sebaliknya, zaman sepeninggalnya (Nabi) adalah zaman malam yang disebabkan karena keindahan duniawi, talim itu masih belum zahir sepenuhnya sehinga nabi terangkat, zaman itu adalah zaman malam. Merupakan sunnatullah bahwa Nabi tinggal didalam kaumnya sampai mathlail fajr, karena tidak ada Nabi yang datang ke dunia ini untuk mendapatkan nikmat-nikmat duniawi. Karena itu ketika tiba saatnya nampak hasil nyata dari pengorbanannya, dan benih yang telah ditanamnya itu sudah mulai berbuah, Allah Ta’ala berfirman kepadanya ,”Datanglah engkau kepadaku dan biarkanlah nikmat-nikmat (duniawi) ini untuk orang lain saja yang menganggapnya lebih berharga.
Memperhatikan hal ini Rasulullah SAW menyebut para sahabatnya sebagai Nujum (bintang bintang) ,Karena nujum selalu zahir pada malam hari ,Beliau bersabda Ashhabiy kaNnujuwm biayyihumuq tadaitum Ihtadaitum Yakni pada zamanku Keberkatan yang telah Allah Ta’ala turunkan. Disebabkan karena mengambil bagian didalamnyalah, sehingga sahabatku menjadi bintang-bintang. Sekarang adalah waktu siang dan matahari sedang menyinari dunia dengan sinarnya, tapi sepeninggalku didunia ini akan datang zaman malam. Pada saat itu sahabat-sahabatku akan membimbing orang orang, karena itu sepeninggalku, yang akan sukses adalah orang yang dalam kegelapan malam akan mendapatkan cahaya dari sahabatku. Dalam hadits ini Rasulullah menyebut zamannya sebagai siang, dan zaman yang akan datang sepeninggalnya sebagai zaman malam. Tapi dari sisi lain yang berkaitan dengan kesuksesan zahir dan kemenangan, zaman Rasulullah SAW serupa dengan malam, dan zaman sepeninggalnya adalah sama dengan siang, Sebagaimana perhatikanlah setelah kewafatan Hazrat Rasulullah SAW Allah Ta’ala mulai memberikan kemenangan dalam corak zahir kepada islam. Sampai sampai Islam mendapatkan kekuatan sehingga ketika kaisar mendengar suara Hazrat Abubakar, Kaisar tidak berdaya untuk menolaknya, Padahal pada zaman Rasulullah SAW kondisinya adalah ketika surat Rasulullah SAW sampai kepadanya (kaisar), memang berpengaruh, tapi dia merasa takut dengan kaumnya sehingga tidak siap untuk mengiyakan sabda Rasul SAW tadi.
Ketika pada zaman Hazrat Umar ra, Beliau mendapatkan Ru’ub yang lebih kuat lagi dibanding dengan Hazrat Abubakar, sehingga si Kaisar tidak hanya mendengarkan perkataannya bahkan dia pun ketakutan. Bahwa kalau saya tidak mengamalkannya sesuai dengan itu, akiibatnya akan buruk bagi saya. Dan sampai saat itu Kisra sudah hancur, Pada zaman Utsman ra Beliau pun mendapatkan ru’ub sehingga namanya menggema di segala penjuru dan setiap orang menganggap bahwa saya harus mentaati perintah Amirul Mukminin, Sekarang dimana berkenaan dengan kehormatan Duniawi, Muhammad SAW tidak mendapatkan I’zaz kehormatan itu seperti yang diraih oleh Hazrat Abubakar, Umar dan Usman, tapi meskipun demikian orang orang ini menjadi bintang-bintang dunia ruhani dan Rasulullah SAW mataharinya.
Jadi sepeninggal Nabi, dari sisi ruhani mulailah zaman malam, Tapi dari sisi jasmani kewafatan seorang Nabi mengisyarahkan pada terbitnya fajar dan setelah itu terbitnya matahari mulai nampak yakni pemandangan kesuksesan yang zahir, begitu juga terjadi pada zaman Hazrat Rasulullah SAW, begitu juga terjadi pada zaman Masih Nasiriy dan zamannya Musa.. Pada zaman Beliau as jalsah yang terakhir kali yang hadir didalamnya ada 700 orang , Saya ingat Beliau pergi keluar untuk jalan jalan, maka di reti chillah diman terdapat pohon bar setelah melihat banyaknya orang yang hadir pada saat itu Beliau as bersabda, Akhirnya tugas kita sudah selesai , karena pada saat ini kemenangan dan tanda tanda kesuksesan sudah Nampak. Juga Beliau berkali kali menyebutkan kemajuan Ahmadiyat dan bersabda Sedemikian rupa Allah Ta’ala telah menganugerahkan kemajuan kepada Ahmadiyah. Saat ini ada 700 orang yang dating kemari untuk mengikuti jalsah.
Ini adalah kesuksesan besar, sehingga saya menganggap untuk tugas yang karenanya Allah Ta’ala mengutusku ke dunia ini , itu sudah terpenuhi, sekarang tidak ada yang bias menghapus Ahmnadiyah.. Tapi dengan karunia Allah Ta’ala keadaan sekarang adalah hanya untuk menghadiri daras saja 800 an orang berkumpul, dan orang orang ini bukkanlah berasal dari luar Qadian, tetapi mereka semuanya adalah orang qadian. Dan untuk jalsah dengan kerunia Allah Ta’ala 25000, 30000 orang dating dari luar dan berkumpul. Jadi dengan karunia Allah Ta’ala jemaat kita terus menerus meraih kemajuan, tidak ada hari yang berlalu yang kosong dari orang yang baiat. Selalu terjadi penambahan peningkatan kekuatan, ketinggian dan kemajuan. Tapi meskipun kemenangan itu, siapa yang bisa mengatakan bahwa zaman ini lebih baik dari zaman Masih Mau’ud as? memang kita lebih banyak meraih kesuksesan, keajuan kemajuan lebih banyak, kemenangan juga tapi setelah mengingat kembali zaman Hazrat Masih Mauud as hati menjadi merintih dan seluruh kemajuan kemajuan ini mulai nampak begitu rendah.
(Tafsir Kabir Jilid 9 hal 340)
Penerjemah: Mahmud Ahmad Wardi
|