|
Di dalam Alquran, Allah Ta'ala berfirman:
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ()
Orang-orang bodoh di antara manusia akan berkata “Apakah yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat mereka, yang mereka telah berada di atasnya?” Katakanlah,”Timur dan Barat kepunyaan Allah swt. ; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (Al Baqarah [2]: 143)
Dalam Tafsir Alquran dengan Terjemah dan Tafsir singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah, dijelaskan bahwa Dalam beberapa ayat yang sudah lalu, secara khusus telah disinggung kenyataan bahwa, sesuai dengan rencana Ilahi, Nabi Ibrahim a.s. telah menempatkan istri dan putra beliau, yakni Siti Hajar dan Ismail a.s., di lembah Mekkah yang gundul dan gersang itu. Ketika Ismail a.s. tumbuh dewasa Hadhrat Ibrahim a.s. mendirikan kembali Ka’bah dengan bantuan putra beliau itu, dan selagi membangun kembali Ka’bah itu beliau mendoa kepada Tuhan agar membangkitkan di antara orang-orang Arab seirang nabi besar yang bakal menjadi Pembimbing dan Pemimpin umat manusia untuk segala masa. Dan pada saat yang telah ditentukan ketika Nabi besar itu muncul, rencana Tuhan Yang Azali mulai bekerja dan Ka’bah dijadikan “kiblat” untuk seluruh umat manusia.
Tetapi ketika berada di Mekkah, Rasulullah saw., sesuai dengan kebiasaan lama beliau dan pula atas perintah Ilahi, menghadapkan wajah beliau ke Baitul mukadas di Yerusalem yang merupakan kiblat para nabi Israil. Di Medinah pun beliau tetap menhadap ke arah Yerusalem. Tetapi, beberapa bulan kemudian beliau diperintahkan oleh Allah swt. supaya menghadapkan wajah beliau ke arah Ka’bah. Hal itu dicela oleh orang-orang Yahudi. Ayat dalam pembahasan ini memberikan hawaban terhadap keberatan mereka, dan pula menjelaskan hikmah perintah untuk mengubah arah kiblat itu. Tetapi, Alquran tidak pernah memberika sesuatu perintah baru secara serentak. Alquran senantiasa mulai dengan menyediakan dahulu landasan untuk penerimaannya dengan memberikan alasan-alasan yang mendukung perintah itu, dan mencegah serta menjawab keberan-keberatan yang mungkin timbul terhadap perintah itu. Karena perintah perubahan kiblat itu mungkin akan mengganggu ketenangan dan keseimbangan batin sebagian orang, maka dalam ayat ini landasannya tengah disediakan dengan membuat satu pandangan umum bahwa pemilihan arah tertentu untuk beribadah itu tidak begitu penting. Apa yang penting ialah jiwa ketaatan kepada Tuhan dan semangat kesatuan di antara orang-orang yang beriman. Anak kalimat, timur dan barat adalah kepunyaan Allah swt., menerangkan bahwa pilihan Timur atau Barat itu tak begitu penting dan karena tujuan hakiki adalah hanya Tuhan, maka nenetapkan arah tertentu itu terutama sekali dimaksudkan untuk menciptakan rasa persatuan. Ayat ini berarti pula bahwa suatu hari Ka’bah akan jatuh ke tangan Muslim.
Di ayat selanjutnya, Allah Ta'ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ()
Dan, demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia supaya kamu menjadi penjaga manusia dan agar Rasul itu menjadi penjaga kamu. Dan, tidak Kami jadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya. Dan, sesungguhnya Allah swt. Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al Baqarah [2]: 144)
Dalam Tafsir Alquran dengan Terjemah dan Tafsir singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah, dijelaskan bahwa Orang-orang Arab itu sangat besar keterikatan mereka kepada Ka’bahrumah ibadah tertua di Mekkah. Ka’bah adalah tempat peribadatan nasional mereka yang turun temurun semenjak zaman Nabi Ibrahim a.s. Maka merupakan percobaan berat bagi mereka ketika pada zaman permulaan Islam diperintahkan meninggalkan Ka’bah dan digantikannya dengan Baitulmukadas di Yerusalem yang merupakan kiblat Ahlikitab (Bukhari dan Jariri). Dan kemudian di Medinah perubahan Kiblat dari Baitulmukadas ke Ka’bah merupakan ujian berat bagi kaum Yahudi dan Kristen. Jadi, perubahan itu ternyata merupakan ujian bagi pada Ahlikitab dan kaum Muslimin; begitu pula bagi kaum musyrikin Mekkah.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ ()
“Sesungguhnya, Kami sering melihat wajah engkau menengadah ke langit; maka niscaya akan Kami palingkan engkau ke arah Kiblat yang engkau menyukainya. Maka palingkanlah wajah engkau ke arah Masjidilharam; dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang di beri Alkitab tentu mereka mengetahui bahwa ini kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah swt. tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah [2]: 145)
Dalam Alquran dengan Terjemah dan Tafsir singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah, disebutkan bahwa ketika berada di Mekkah Rasulullah saw. , atas perintah Ilahi, menghadapkan wajah beliau di waktu shalat ke arah Baitulmukadas di Yerusalem. Tetapi, oleh karena dalam hati sanubari beliau menginginkan ke Ka’bah menjadi kiblat beliau dan beliau pun mempunyai semacam firasat bahwa pada akhirnya keingainan beliau akan terkabul, maka beliau senentiasa mengambiil tempat shalat yang sekaligus beliau dapat menghadap ke Baitulmukadas dan ke Ka’bah. Tetapi, ketika beliau berhijrah ke Medinah, mengingat letak kota, beliau hanya dapat menghadap ke Baitulmukadas saja. Dengan perubahan kiblat itu keinginan hati beliau yang mendalam itu menjadi lebih mendalam lagi dan, meskipun karena menghargai perintah Tuhan, beliau tidak mendoa bagi perubahan itu tetapi beliau dengan penuh harapan dan keinginan menengadah ke langit menanti perintah mengenai perubahan itu.
Dalam ayat tersebut, kata Nuwalliyannaka berarti juga, “Kami akan menjadikan engkau penguasa dan penjaga.” Ungkapan ini merupakan nubuatan berganda, ialah, bahwa akhirnya Ka’bah kan menjadi kiblat semua orang dan bahwa pemilikan Ka’bah pun akan jatuh ke tangan Rasulullah saw.
Kata-kata itu berarti bahwa meskipun dalam keadaan biasa, kaum Muslimin diperintahkan menghadap ke Ka’bah pada waktu shalat, tetapi kepentingan soal arah itu sesungguhnya menempati urutan kedua. Perubahan itu dimaksudkan untuk mengadakan dan memelihara persatuan dan keseragaman dalam persaudaraan umat Islam.
Di satu ayat selanjutnya, Allah Ta'ala berfirman:
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ ()
“Dan sekalipun engkau membawa segala Tanda kepada orang-orang yang diberi Alkitab niscaya mereka tidak akan mengikuti Kiblat engkau dan engkau pun tidak akan menjadi pengikut Kiblat mereka; dan sebagian mereka tidak akan menjadi pengikut Kiblat sebagian yang lain. Dan jika sesudah ilmu datang kepada engkau, engkau menuruti juga keinginan mereka, niscaya engkau akan termasuk orang-orang aniaya.”
Penjelasan tafsir ayat ini dalam Alquran dengan Terjemah dan Tafsir singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah, adalah sebagai berikut:
Ayat ini menunjuk kepada permusuhan orang-orang Yahudi dan Kristen bukan saja terhadap Islam, tetapi pula yang satu terhadap yang lain. Orang-orang Yahudi mempunyai Yerusalem sebagai kiblat mereka (Raja-raja 8:22-30; Daniel 6:10; Zabur 5:7 dan Yunus 2:4); sedangkan kaum Samaria, cabang kaum Yahudi yang dipencilkan dan juga menganut hukum syariat Nabi Musa a.s. telah menetapkan bukit tertentu di Palestina yang disebut Gerizim, sebagai kiblat mereka (Commentary on the New Testament by W. Walsham How D.D). Orang-orang Kristen zaman permulaan mengikuti kiblat kaum Yahudi (Enc. Brit. 14th edition, V.676 dan Jew. Enc VI, 53). Kaum Kristen dari Najran melakukan kebaktian dalam masjid Rasulullah saw. di Medinah dengan wajah menghadap ke timur (Zurqani, IV, 41). Jadi kaum Yahudi, kaum Samaria, dan Kristen mengikuti kiblat yang berlainan disebabkan oleh iri hati dan permusuhan satu sama lain. Dalam keadaan demikian sia-sialah mengharapkan mereka akan mengikuti kiblat orang-orang Islam. []
|
Artikel ini berkaitan dengan http://ci nta-islam.web.id/berita-cinta-islam/2-cinta-islam/55-penistaan-terhada p-rasulullah-saw-melalui-grup-facebook.html