Facebook Page: 125863886166 Tumblr: cinta-islam Twitter: cinta_islam External Link: isamujahid.wordpress.com
 
Halaman Utama Artikel Cinta Islam Islam Miladun Nabi: Sekilas Mengenai Siratun Nabi saw (Kisah Kehidupan Rasulullah saw)
Miladun Nabi: Sekilas Mengenai Siratun Nabi saw (Kisah Kehidupan Rasulullah saw)
Written by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad   
Tuesday, 30 March 2010 11:01
Share/Save/Bookmark

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ - نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى ْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

Muhammad Rasulullah sawAbad Islam yang terkenal paling baik adalah permulaan berdirinya Agama Islam sampai tiga abad berikutnya, yang disebut tiga abad terbaik. Didalam abad-abad itu terdapat orang-orang yang sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw. Kecintaan mereka terhadap Hazrat Rasulullah saw sangat tinggi derajatnya. Beliau-beliau itu mengetahui banyak sekali sunnah-sunnah Rasulullah saw. Dan beliau-beliau itu sangat patuh sekali melaksanakan syari’at Agama Islam. Sekalipun demikian pada zaman beliau-beliau itu yakni zaman para sahabah dan juga pada zaman para tabi’in yakni orang-orang yang berjumpa dan bergaul dengan para sahabah, tidak terdapat riwayat adanya perayaan atau peringatan Miladun Nabi. Padahal, sebagaimana telah saya katakan, bahwa beliau-beliau itu sangat mencintai dan sangat mematuhi sunnah-sunnah Hazrat Rasulullah saw.

Dikatakan bahwa orang yang memulai menganjurkan untuk memperingati atau merayakan Miladun Nabi itu adalah Abdullah Muhammad Bin Muhammad Abdul Ghada. Yang para pengikutnya disebut Fatmi. Mereka menisbahkan diri berasal dari keturunan Hazrat Ali r.a. Dan mereka termasuk dalam kelompok mazhab Bathini. Mazhab Bathini ini percaya bahwa sebagian dari pada Syari’at itu ada yang zahir atau nampak dan sebagian lagi tidak nampak atau tersembunyi. Menurut mereka dengan cara menipu memukul atau membunuh para penentang juga diperbolehkan. Banyak lagi hal-hal yang menyimpang yang menunjukkan banyak sekali bid’ah-bid’ah yang terdapat didalam ajaran mazhab mereka itu yang dinisbahkan kepada kitab mereka.

Jadi, orang-orang pertama yang melakukan perayaan Miladun Nabi adalah orang-orang yang tergabung didalam mazhab Bathini ini. Dan cara yang mereka lakukan itu benar-benar bid’ah telah dibawa masuk kedalam ajaran Islam yang sejati. Mazhab ini terdapat didalam pemerintahan Mesir (Egypt) pada tahun 362 Hijrah. Selain dari memepringati Miladun Nabi mereka membuat peringatan atau perayaan lainnya lagi, misalnya yaumi asyura, miladun Nabi, milad yakni hari kelahiran Hazrat Ali , milad, hari kelahiran Hazrat Hasan, milad Hazrat Husen, milad Hazrat Fatimah Az Zahra. Mereka merayakan hari pertama dan hari pertengahan bulan Rajab, merayakan hari pertama dan pertengahan bulan Sya’ban, malam khataman Qur’an dan perayaan bermacam-macam didalam bulan Ramadhan, banyak sekali perayaan-perayaan yang mereka lakukan, yang telah menjadikannya bid’ah-bid’ah didalam Islam.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa diantara orang-orang Islam ada juga beberapa golongan atau kelompok Islam yang tidak sepaham dengan melakukan perayaan miladun nabi ini. Banyak firqah atau golongan yang sama-sekali tidak melakuan perayaan miladun Nabi. Dan mereka menyatakan “bid’ah” terhadap perayaan miladun Nabi ini. Ada pula kelompok lain didalam Islam yang melakukannya secara berlebih-lebihan. Bagaimanapun kita akan tengok sabda Imam Zaman sekarang ini yang telah diutus oleh Allah swt sebagai Hakaman Adalan, bagaimana pendapat dan nasihat beliau tentang Miladun Nabi ini. Seorang telah bertanya kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. tentang Miladun Nabi, didalam jawabannya  beliau bersabda : “ Mengenang dan membicarakan tentang wujud Hazrat Rasulullah saw adalah pekerjaan yang sangat baik sekali. Bahkan menurut riwayat hadis mengenang dan membicarakan tentang para Nabi atau para wali Allah rahmat Tuhan turun kepada mereka dan bahkan Allah swt sendiri menganjurkan untuk mengenang dan menyebut-nyebut para nabi-Nya. Akan tetapi jika membicarakan nabi itu disertai bid’ah-bid’ah yang menyelubungi tauhid Ilahi maka tidak diperbolehkan. Tempatkanlah keagungan Tuhan bersama Tuhan dan keagungan Nabi bersama Nabi. Para Maulvi zaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata berbau bid’ah dan bid’ah-bid’ah itu bertentangan dengan kehendak Allah swt. Jika memperingatinya tidak disertai dengan bid’ah namun hanya dengan nasihat atau ceramah, jika didalam acara itu diterangkan mengenai kebangkitan Rasulullah saw, mengenai kelahiran beliau atau mengenai wafat beliau saw maka hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita tidak merasa perlu untuk menyusun sebuah peraturan atau sebuah kitab tentang itu.”

Perayaan miladun nabi itu jika berkaitan dengan sirat atau riwayat kemulyaan Rasulullah saw tentu baik sekali, namun pada masa sekarang ini khasnya di Pakistan maupun di Hindustan, peringatan miladun nabi itu sudah menyimpang dari maksud semula menjelaskan sirat atau riwayat Nabi Muhammad saw melainkan sudah campur-baur dengan cerita politik. Atau perayaan itu digunakan untuk melemparkan tuduhan-tuduhan satu golongan kepada golongan lain. Perayaan apapun yang dilakukan di Pakistan, mula-mula menceritakan sedikit sirat atau kehidupan Nabi kemudian disambung dengan caci maki yang berlebihan dan kata-kata nonsense serta kotor terhadap wujud suci Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.Dan mereka membuat nama beliau jadi sasaran perolokan dan penghinaan.

Beberapa hari yang lalu para Maulvi Ghair Ahmadi mengadakan jalsah miladun Nabi dikota Rabwah dan melakukan pawai keliling kota Rabwah. Tujuan jalsah miladun nabi mereka hanya untuk mencaci maki Ahmadiyah dan menunjukkan rasa benci dan dengki menanam benih permusuhan terhadap Jema’at Ahmadiyah. Jalsah atau pertemuan mereka atas nama miladun nabi seperti itu tidak ada faedahnya sama sekali. Wujud Hazrat Rasulullah saw sungguh berberkat sekali. Beliau datang ke dunia sebagai rahmatul lil ‘alamin. Musuh-musuh-pun dido’akan oleh beliau sambil menangis dihadapan Allah swt. Hazrat Aisyah r.a. meriwayatkan katanya : “Pada suatu malam saya bangun ikut sembahyang Tahajjud bersama Rasulullah saw. Pada waktu itu beliau terus-menerus berdo’a sambil menangis memohon kepada Allah swt, wahai Allah! Ma’afkanlah kaumku ini dan berilah taufik kepada mereka untuk menggunakan akal mereka !!

Namun, apa yang dilakukan oleh para Mullah pada zaman sekarang diwaktu mereka merayakan miladun nabi? Mereka dengan menyebut orang-orang Ahmadi ini Qadiani mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan bahasa yang sangat kotor dan keji. Mereka melemparkan tuduhan-tuduhan palsu sama sekali tidak berasas terhadap orang-orang Ahmadi. Sedangkan contoh teladan Hazrat Rasulullah saw telah terbukti demikian indahnya. Ketika disuatu medan perang seorang sahabah tengah mengejar untuk membunuh seorang musuh, kemudian ketika musuh itu sudah terpojok, serentak ia membaca Kalimah Syahadat. Akan tetapi sahabah itu langsung membunuhnya juga. Ketika peristiwa itu dilaporkannya  kepada Hazrat Rasulullah saw, beliau saw dengan nada tidak senang dan marah bertanya kepada sahabah itu : “ Apakah sudah engkau belah dadanya bahwa dia mengucapkan kalimah syahadah itu karena takut dari pedang engkau ?” Sahabah itu sangat menyesal sekali atas kesalahannya itu, sambil berkata : “ Aduhai !! Alangkah baiknya jika aku ini  baru beriman pada hari ini !!” Akan tetapi apa yang tengah dilakukan oleh para mullah sekarang ini ?? Keadaannya sangat terbalik !!  Bagaimanapun mereka sudah terbiasa dengan perbuatan yang salah itu.

Sekarang saya ingin mengemukakan sabda-sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. Diantaranya beliau bersabda : “ Semata-mata memperingati kehidupan suci Rasulullah saw adalah amal perbuatan yang sangat baik. Dengan amalan itu kecintaan terhadap beliau tambah meningkat. Dan dengannya timbul satu daya tarik dan semangat untuk menta’ati perintah-perintah beliau saw. Didalam Kitab Suci Al Qur’an banyak terdapat perintah untuk mengingat riwayat para Anbiya misalnya Allah swt berfirman :

وَاذْكُرْ فِي اْلكِتَابِ اِبْرَاهِيْمَ

Artinya :  Dan ingatlah didalam kitab tentang Ibrahim

Akan tetapi didalam memperingati para Anbiya itu sekarang kerap kali dicampuri dengan bid’ah-bid’ah maka ia menjadi haram. Ingatlah! Tujuan utama Islam adalah menegakkan Tauhid. Pada zaman sekarang bisa dilihat bagaimana banyaknya bid’ah-bid’ah dilakukan didalam panggung-panggung perayaan miladun Nabi. Ilmu pengetahuan yang baik tentang miladun nabi itu sudah dicemari dan dirusak oleh bid’ah-bid’ah sehingga perayaan itu menjadi haram. Padahal mengingati wujud suci Hazrat Rasulullah saw menjadi penyebab turunnya rahmat dari Allah swt. Namun mereka melakukannya diluar batas syariat disertai bid’ah-bid’ah sehingga bertentangan dengan kehendak Allah swt.”

Kami sendiri tidak sependapat jika beliau a.s. harus membuat asas syariat baru. Karena itulah yang sedang terjadi sekarang dikalangan para Mullah. Setiap orang sesuai dengan kemauannya sendiri hendak menjadikannya sebagai syari’at. Seolah-olah ia sendiri membuat syaria’at. Didalam masalah miladun nabi itu telah dilakukan perayaan-perayaan secara kacau-balau. Disebabkan kejahilan dan kebodohan banyak pula orang mengatakan bahwa mengingat Hazrat Rasulullah saw sendiri pekerjaan haram. Na’udzubillahi min dzalik !! Mereka itu telah membuktikan kebodohan sendiri. Menyatakan haram terhadap berceramah atau bercerita tentang riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw sangat dungu dan bodoh sekali. Padahal patuh ta’at yang sesungguhnya kepada beliau menjadi sarana atau menjadi penyebab yang mendasar bagi orang yang akan menjadi kekasih Allah swt. Timbulnya semangat untuk patuh ta’at kepada beliau disebabkan seringnya mengingat dan mendengar kisah tentang beliau. Orang yang mencintai kekasihnya selalu mengingatnya dan sering menyebut-nyebut namanya. Memang ada kelompok orang-orang Islam yang pada acara miladun Nabi sedang berlangsung, mereka berdiri semua. Yang sedang duduk dilantaipun serentak berdiri semuanya karena menganggap pada waktu itu Hazrat Rasulullah saw pun sedang hadir bersama mereka. Inilah cara yang biasa mereka lakukan juga. Sudah menjadi kebiasaan apabila mereka sedang merayakan miladun Nabi mereka berdiri semua. Seorang Mullah sedang berceramah dan para hadirin sedang duduk dilantai, lalu penceramah mengatakan Hazrat Rasulullah saw sudah datang ditengah-tengah mereka. Tiba-tiba semua orang-orang yang sedang duduk itu serempak berdiri. Mereka yang menganggap Hazrat Rasulullah saw datang hadir ditengah-tengah mereka adalah perbuatan yang sangat berani. Mereka sungguh berani mengatakan demikian. Padahal majlis perayaan seperti itu dihadiri oleh orang-orang yang suka meninggalkan sembahyang juga. Bagaimana keadaan orang-orang duduk disana diantara mereka itu banyak juga yang tidak menunaikan sembahyang. Banyak diantara mereka setahun hanya dua kali mengerjakan sembahyang yaitu pada hari Eid saja dan mereka hanya rajin menghadiri acara-acara perayaan miladun Nabi seperti itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Banyak sekali yang hadir didalam acara-acara seperti itu orang-orang yang biasa meninggalkan salat, bahkan mereka pemakan uang renten (bunga uang) dan suka meminum-minuman keras. Apa hubungannya Majlis-majlis semacam itu dengan wujud suci Hazrat Rasulullah saw? Orang-orang seperti itu berkumpul didalam acara-acara itu hanya untuk show atau untuk mempertunjukkan diri saja . Fikiran semacam itu betul-betul sia-sia. Diantara mereka banyak orang-orang Wahabi yang tidak memberi tempat keagungan Hazrat Rasulullah saw didalam hati mereka. Sebetulnya mereka itu bukan orang-orang beragama. Padahal wujud para Anbiya adalah laksana hujan yang menurunkan air sejuk, mereka itu wujud-wujud cahaya yang cemerlang. Mereka adalah wujud kumpulan segala kemulyaan. Wujud mereka merupakan blessing atau berkat bagi dunia. Orang yang menganggap wujud-wujud beliau itu serupa dengan diri mereka sendiri, mereka telah berbuat zalim. Sesungguhnya menjalin kecintaan dengan para Wali dan para Anbiya meningkatkan kekuatan iman kita.”

Terdapat riwayat didalam hadis bahwa Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Surga adalah kedudukan yang sangat luhur. Dan saya akan berada didalamnya.” Seorang sahabat yang sangat mencintai beliau mendengar sabda beliau itu langsung menangis lalu berkata : “Ya Rasulallah saya sangat mencintai yang mulia !!” Beliau saw bersabda : “Engkau akan tinggal bersama-sama dengan aku !” Maksud beliau saw adalah barangsiapa yang mencintai beliau dia pasti akan tinggal bersama beliau didalam surga. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Golongan lain yang berikhtiar melakukan bid’ah-bid’ah yang berbau kemusyrikan didalam diri mereka tidak ada sebarang ruhaniyat. Orang-orang yang menyembah kuburan didalam diri mereka tidak ada keruhanian. Sesungguhnya perayaan yang didalamnya menceritakan tentang riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw menurut pendapat saya, seperti orang-orang Wahabi mengatakan : “tidak haram” patut diikuti. Orang-orang yang merayakan miladun Nabi sambil melakukan perkara-perkara bid’ah adalah haram.”  Ada juga seorang telah menulis surat menanyakan masalah Miladun Nabi ini kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan beliau menuliskan jawabannya sebagai berikut : “Menurut pendapat saya jika didalamnya tidak terdapat sebarang perbuatan bid’ah, melakukan jalsah miladun Nabi, pidato atau ceramah menceritakan sirat Hazrat Rasulullah saw dan nazam atau qasidah memuji Hazrat Rasulullah saw, Majlis seperti itu sangat baik dan Majlis seperti itu harus sering diadakan.”

Dari sabda-sabda beliau a.s. tersebut dapat diketahui bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw, beliau menghendaki supaya Majlis-majlis perayaan Siratun Nabi sering diselenggarakan untuk menguraikan kemuliaan atau riwayat hidup beliau yang sangat agung itu. Allah swt berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

Artinya : Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencitai kamu. (Ali Imran : 32)

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Pernahkah Hazrat Rsulullah saw membaca Al Qur’an semata-mata demi mendapatkan sepotong roti dari para sahabah ? Para Mullah zaman sekarang ini mengadakan majlis-majlis miladun nabi atau acara-acara lainnya lalu melakukan perkara-perkara bid’ah disusul dengan kesibukan membagi-bagi roti atau makanan. Dan karena acara dimulai dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an maka mereka menganggap roti atau makanan itu sebagai tabaruk banyak mengandung barkat. Padahal Allah swt berfirman : “ Jika kalian cinta kepada Allah swt maka ikutilah jejak langkah Hazrat Rasulullah saw.” Jika memang mereka ingin mengikuti jejak langkah Hazrat Rsulullah saw apakah mereka bisa membuktikan bahwa beliau pernah membaca Al Qur’an demi mendapatkan roti atau makanan ?? Jika beliau pernah membaca Al Qur’an semta-mata untuk tujuan mendapatkan sepotong roti atau sesuap makanan, maka kita akan melakukannya beribu-ribu kali lipat ganda banyaknya. Memang Hazrat Rsulullah saw suatu peristiwa pernah mendengar seorang sahabah membaca Al Qur’an dengan suara yang merdu dan beliaupun menangis ketika sampai kepada ayat ini

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۭ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰؤُلاَءِ شَهِيْدًا

Artinya : Maka, bagaimana keadaan mereka ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini (An Nisa : 42)

Hazrat Rasulullah senang sekali mendengar sahabah membaca Al Qur’an. Namun ketika pembacaan Qur’an itu sampai kepada ayat tersebut Rasulullah saw pun menangis. Namun tangisan beliau itu menunjukkan betapa beliau merendahkan diri dan sangat mencintai Allah swt, beliau merasa bagaimana Dia telah memberi kedudukan tinggi disisi-Nya. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :” Ketika beliau saw menangis mendengar ayat itu dan bersabda : “Cukup, cukup, saya tidak mampu mendengar ayat ini selanjutnya !” Beliau fikir bagaimana akan menjadi saksi dialam akhirat nanti.” Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Kami sendiri menghendaki agar ada seorang hafiz yang bisa membaca Qur’an dengan suara merdu, kami ingin mendengarnya.” Seperti itulah maksud mengikuti langkah Hazrat Rasulullah saw itu. Beliau a.s. bersabda lagi : “ Apa yang Hazrat Rasulullah saw telah tunjukkan teladan didalam setiap pekerjaan, itulah yang harus kita ikuti. Untuk membuktikan seseorang benar-benar mukmin sejati cukuplah dengan membuktikan dengan nyata apakah Rasulullah telah melakukan hal demikian atau tidak ? Jika tidak apakah beliau telah menyuruh untuk melakukannya? Hazrat Ibrahim a.s. adalah datuk moyang beliau dan beliau a.s. patut djunjung dan dihormati. Apa sebabnya beliau tidak menyuruh mengadakan peringatan maulid datuk moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahim a.s.? Rasulullah saw tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi Ibrahim a.s. Pendeknya pada hari maulud (kelahiran) Nabi Muhammad saw mengadakan peringatan atau perayaan atau mengadakan jalsah milad atau maulud tidak dilarang, dengan syarat didalamnya tidak boleh dilakukan sebarang perbuatan bid’ah. Didalam perayaan itu semata-mata diceritakan berbagai aspek dari sirat atau riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw, tidak hanya setahun sekali menguraikan sirat atau riwayat hidup beliau saw itu bahkan sepanjang tahun kita boleh bahkan harus mengadakan jalsah siratun Nabi. Dan seperti itulah yang dilakukan oleh Jema’at Ahmadiyah. Jema’at Ahmadiyah diseluruh dunia selalu mengadakan jalsah siratun Nabi pada setiap kesempatan tidak terikat oleh waktu yang tertentu. Akan tetapi jika secara khas mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada waktu yang ditetapkan, lalu mengadakan jalsah atau pertemnuan untuk menguraikan kisah atau riwayat Hazrat Rasulullah saw mengenai akhlaq fadillah beliau saw dan sebagainya, jika diadakan di seluruh negara atau diseluruh dunia tidak dilarang. Akan tetapi didalamnya tidak boleh ada perbuatan bid’ah. Berdasarkan pandangan Hazrat Masih Mau’ud a.s. itulah saya sekarang akan menjelaskan beberapa segi dari sirat Hazrat Rasulullah saw. Supaya beberapa bagian dari sirat beliau saw itu bisa kita jadikan bahagian dari kehidupan kita sehari-hari. Barulah sesuai dengan firman-Nya kita akan dapat memperoleh kecintaan Allah swt. Dan barulah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah swt. Dan do’a-do’a kita juga mencapai tingkat kemaqbulan disisi-Nya. Banyak orang bertanya apakah kita boleh menjadikan Hazrat Nabi Muhammad saw sebagai wasilah (perantara) untuk memanjatkan do’a kepada Allah swt ? Mengikuti sunnah-sunnah beliau dan mencintai beliau sepenuhnya merupakan wasilah untuk memanjatkan do’a kepada Allah swt agar do’a kita memperoleh kemaqbulan disisi-Nya. Didalam do’a setelah mendengar azan juga kita diajarkan untuk menjadikan beliau wasilah (perantara) bagi kita.

Sebagian dari ayat yang saya bacakan tadi yang dikutip dari sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ  فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ‌ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencitai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Penngampun, Maha Penyayang. Maka bisa kita lihat sunnah apakah yang beliau lakukan yang harus kita ikuti ?  Apa yang beliau lakukan dihadapan para sahabah beliau sehingga riwayatnya telah disampaikan kepada kita. Orang-orang dunia melakukan tuduhan terhadap Hazrat Rasulullah saw bahwa beliau, na’uzu billah, telah menguasai sebagian daerah demi menunjukkan keagungan dan kekuasaan beliau dan beliau telah menjadikannya sebagian dari kekuasaan pemerintahan beliau. Kemudian  terhadap isteri-isteri suci beliau telah dilontarkan bermacam-macam keburukan. Begitu kotornya tuduhan yang dilontarkan para penentang Islam terhadap beliau-beliau itu sehingga lidah tidak kuasa membacanya. Bahkan di Amerika telah ditulis sebuah buku yang telah ditanggapi oleh seseorang bahwa orang-orang Kristian telah menulis buku yang isinya betul-betul ngawur dan sangat menusuk perasaan sehingga kita tidak sampai hati membacanya. Semua tuduhan yang dikenakan terhadap Hazrat Rasulullah saw bukanlah perkara baru. Selalunya tuduhan itu dilontarkan terhadap wujud suci beliau saw. Ketika beliau mulai menda’wakan diri sebagai Utusan Allah swt atas perintah-Nya, disa’at itu para kuffar Mekkah menganggap beliau telah menda’wakan diri demi kepentingan dunia beliau. Dan melalui paman beliau orang-orang Mekkah telah mengirimkan pesan katanya, janganlah Muhammad mencaci maki sembahan kami dan janganlah beliau menablighkan sesuatu ajaran agama kepada kami. Sebagai gantinya kami siap memberi kedudukan kepada beliau sebagai pemimpin kami. Kekuasaan dan kebesaran yang ada pada kami akan siap diserahkan kepada beliau. Kami siap memberi harta kekayaan. Jika beliau memerlukan seorang wanita paling cantikpun kami siap menyediakannya. Maka jawaban yang beliau berikan adalah : “Jika orang-orang ini meletakkan mata hari diatas telapak tangan kananku dan meletakkan bulan diatas telapak tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti menjalankan tugas aku. Aku diutus oleh Allah swt supaya aku membeberkan segala macam keburukan mereka dan aku hendak memberi petunjuk agar mereka melangkah diatas jalan yang lurus. Jika untuk itu semua aku harus mengorbankan nyawaku maka dengan senang hati akan aku serahkan seluruh jiwa ragaku. Kehidupanku telah diwaqafkan dijalan Tuhan ini. Rasa takut mati tidak bisa menghalangi aku dari jalan ini. Dan tidak ada sesuatu keinginan yang bisa menghalangi aku dari jalan Tuhan ini.”

Orang-orang dunia selalu menganggap sebagai perkara dunia terhadap tugas suci yang Allah swt serahkan kepada beliau saw. Oleh sebab itu orang-orang kuffar Mekkah telah menawarkan perkara-perkara dunia serupa itu. Dan beliau telah menolak segala macam tawaran orang-orang kuffar itu dan telah menjelaskannya bahwa beliau sama sekali tidak mengharapkan kekayaan atau kepangkatan dunia betapapun tinggi dan mulianya kedudukan itu menurut pandangan mereka. Beliau bersabda : “ Aku telah diutus oleh Zat Yang memiliki Langit dan Bumi ini. Beliau sebagai Nabi terakhir yang akan mengibarkan bendera diatas seluruh permukaan bumi. Dan pengumuman beliau tentang itu Allah swt telah menurunkan ayat ini :

قُلْ اِنَّ صَلاَ تِىْ وَنُسُكِىْ وَ مَحْيَاىَ وَمَمَاتِىْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن

Artinya : Katakanlah , “ Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al An’aam : 163). Demikianlah kedudukan kecintaan beliau terhadap Allah swt dari ujung rambut kepala sampai ujung jari kaki beliau. Beliau tidak memerlukan kebesaran dan kepangkatan atau kekayaan dunia. Beliau memerlukan kerajaan Allah sawt Yang Tunggal diatas dunia. Dan untuk itulah beliau menanggung setiap kesusahan dan kesulitan. Beliau mengumumkan kepada dunia : “ Jika kalian menghendaki kehidupan yang kekal abadi maka ikutilah aku dan hasilkanlah kedudukan salat kalian seperti yang telah aku perlihatkan contohnya bagi kalian. Terbenam didalam ibadah-lah terletak jaminan sesungguhnya bagi kehidupan manusia. Dan sebelum kematian yang sesungguhnya lewatilah kematian melalui pengurbanan yang contohnya paling baik telah aku tegakkan bagi kalian. Oleh sebab itu apabila kematian yang sesungguhnya telah terjadi maka kehidupan yang kekal abadi akan segera dimulai. Yang akan menjadi sarana bagi manusia untuk meraih keridhaan Allah swt.

Maka kedudukan salat dan pengurbanan yang sangat luhur itu telah diraih oleh Hazrat Rasulullah saw sehingga beliau telah menciptakan pandangan baru yang jelas bagi tujuan kehidupan dan kematian manusia. Dan Allah swt telah mengumumkan melalui beliau saw bahwa, mengapa kalian telah menawarkan segala kenikmatan dunia kepadaku? Dan mengapa kalian telah mengancam aku dengan kezaliman dunia? Semua pekerjaan dan amalan-amalan-ku hanya untuk Allah swt. Barangsiapa yang telah menyerahkan segala miliknya kepada Allah swt, baginya baik kehidupan dunia ini maupun kematian itu tidak ada nilainya. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Hazrat Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita semua bahwa seperti itulah contoh yag aku lakukan. Kalian juga dengan mengamalkan perintah    فَاتَّبِعُوْنِىْ … ikutilah aku, harus melangkah kearah jalan ini.

Pada zaman sekarang ini juga dibeberapa negara didunia sedang dilakukan usaha menakut-nakuti dengan berbagai macam ancaman terhadap Jema’at Hazrat Asyiq Shadiq yakni Jema’at Ahmadiyah ini. Seperti di Pakistan setiap hari ada saja kejadian, demikian juga di Hindustan didaerah majority Muslim orang-orang Ahmadi khasnya para mubayi’in baru tengah diperlakukan dengan kejam dan dizalimi diluar batas peri kemanusiaan. Sehingga di negara-negara Eropa juga, seperti di Bulgaria telah diterima laporan beberapa hari yang lalu, bahwa sekarang disana juga para Ahmadi telah diperlakukan dengan zalim. Disana karena perintah mufti tujuh delapan orang Ahmadi baru telah ditangkapi polisi dan mereka telah diperlakukan dengan kekerasan diluar perikemanusiaan. Namun dengan karunia Allah swt keimanan semua orang Ahmadi baru itu tetap kuat dan teguh. Maka setiap orang Ahmadi dimanapun berada harus selalu ingat bahwa tidak ada satu jenis kesusahan atau penganiayaan-pun yang tidak dialami oleh Hazrat Rasulullah saw dan oleh para sahabah beliau rodhiallhu ta’ala ’anhum. Kita ini satu perpuluhan seratuspun (seperseratuspun) tidak mengalami kesusahan dan kesengsaraan dari yang dialami oleh beliau saw dan para sahabah beliau r.a. Jika kita faham kepada asas ini bahwa segenap ibadah kita dan pengurbanan kita diserahkan kepada Allah swt dan kita tetap diatas pendirian bahwa kehidupan kita dan kematian kita semata-mata hanya untuk Allah swt maka dimana kita secara perorangan akan menjadi pewaris kehidupan kekal abadi disana setiap orang Ahmadi didunia ini juga akan mendapat sarana untuk memberi kehidupan kepada ribuan orang yang telah mengalami kematian ruhani. Maka yang paling utama bagi kita adalah menekan diri masing-masing untuk meningkatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah swt dan setiap orang Ahmadi harus menjadi penggerak manusia didunia untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan teladan yang telah ditegakkan oleh Hazrat Rasulullah saw. Jika kehidupan kita sudah berada diatas jalan yang benar dan kita beramal sesuai dengan teladan Hazrat Rasulullah saw barulah kita  akan mampu menyediakan sarana kehidupan ruhani kepada dunia sesuai dengan teladan Hazrat Rasulullah saw. Kita harus meningkatkan standar ibadah kita sesuai uswah hasanah yang ditinggalkan Hazrat Rasulullah saw bagi kita.

Bagaimanakah mutu ibadah Rasulullah saw, inilah riwayat dari Hazrat Siti Aisyah r.a. katanya : “Saya pernah bertanya kepada beliau : Siapakah kekasih Tuan yang sebenarnya?” Pada suatu hari saya mendapat giliran Rasulullah saw tinggal bersama saya. Pada suatu malam ketika saya bangun Rasulullah saw tidak ada ditempat tidur. Saya dengan rasa khawatir keluar rumah, nampaklah Rasulullah saw sedang bersujud beribadah kepada Allah swt dan beliau sedang berdo’a seperti ini : “Hai Tuhanku !! Ruhku dan hatiku sedang bersujud kepada Engkau!” Demikianlah pernyataan cinta sejati kepada Allah swt. Dan itulah jawaban bagi orang-orang yang melontarkan tuduhan kepada Hazrat Rasulullah saw. Kemudian bagaimana kecintaan Rasulullah saw terhadap Allah swt sekalipun dalam keadaan tidur, beliau bersabda :   يَنَامُ عَيْنَيْنيْ وَلاَ تَنَامُ قَلْبِيْ Artinya : “Kedua mataku sudah tertidur namun hatiku tetap bangun.” Hati beliau bangun apa artinya ? Tiada lain maksudnya berzikir kepada Allah swt. Setiap badan beliau bergilir mengingatkan beliau kepada Allah swt. Do’a-do’a beliau saw dalam berbagai kesempatan telah memberi contoh secara amaliah kepada kita. Hal itu membuktikan bahwa setiap gerak-gerik beliau selalu ingat kepada Allah swt. Maka demikianlah gambaran yang telah diberikan oleh beliau saw kepada kita bahwa setiap amal perbuatan dan gerak-gerik orang mukmin bisa menjadi ibadah, jika semua hal itu dilakukan karena Allah swt dan karena mengingat Allah swt. Dengan niat bahwa amalan-amalan itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Misalnya pada suatu hari Hazrat Rasulullah saw pergi kerumah seorang abid, sahabah yang sangat patuh beribadah, sahabah itu baru selesai membuat sebuah rumah baru. Beliau saw melihat sebuah jendela atau tingkap dirumahnya. Baliau tahu mengapa dia membuat sebuah jendela. Demi tujuan tarbiyat beliau saw bertanya kepada sahabah itu : “Untuk apa engkau telah membuat jendela ini ?” Dijawab oleh sahabah itu : “Untuk udara dan cahaya masuk, ya Rasulallah!” Beliau bersabda : “Bagus sekali. Namun jika engkau membuat jendela atau tingkap ini dengan niat agar bisa mendengar suara azan dengan jelas, maka engkau akan mendapat ganjaran juga dari Allah swt disamping angin dan cahaya memang akan masuk juga !”

Terdapat didalam sebuah riwayat lagi Rasulullah saw bersabda : “Jika seorang suami karena Allah swt menyuapi isterinya dengan makanan maka ia juga akan mendapat pahala dari Allah swt.” Maksudnya bukan hanya sekedar menyuapi isteri sesuap nasi atau makanan, namun maksudnya ialah memberi segala keperluan kepada isteri dan anak-anaknya. Karena kewajiban seorang lelaki adalah menyediakan segala keperluan rumah tangganya. Dan jika dia berbuat demikian itu dengan niyat demi meraih keridhaan Allah swt, suami memenuhi segala keperluan isterinya karena segala-galanya telah berada dibawah tanggung jawabnya, dan anak-anaknya juga menjadi tanggung jawabnya, maka memenuhi kewajiban itu semua menjadi pahala bagi sang suami. Dan hal itu termasuk ibadah juga. Pada zaman sekarang sering terjadi pertengkaran dan kericuhan di rumah tangga disebabkan perkara kecil-kecil saja. Maka jika setiap orang Ahmadi berpikiran dan berprilaku seperti diatas, tentu mereka akan terhindar dari keburukan berupa pertengkaran dan kericuhan seperti itu. Isteri akan menjalankan kewajibannya, bahwa ia akan menjaga rumah tangga dan memelihara anak-anaknya serta mengkhidmati suaminya sebagaimana mestinya, jika ia fikir apa yang dilakukannya itu semata-mata demi Allah swt, tentu hal itu akan menjadi pahala baginya. Jadi, Hazrat Rasulullah saw telah memberitahukan kepada kedua belah pehak suami dan isteri, jika kalian beramal seperti itu maka semua perlakuan kalian berdua akan menjadi ibadah dan kalian berdua akan mendapat pahala dari Allah swt. Itulah perkara-perkara yang harus selalu diingat oleh setiap orang yang telah berkeluarga. Dan perkara kecil-kecil seperti itulah yang bisa menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan laksana surga ditengah-tengah keluarga.

Mengenai indahnya kedudukan ibadah Hazrat Rasulullah saw terdapat riwayat dari Hazrat Aisyah r.a. katanya, pada suatu malam saya melihat Hazrat Rasulullah saw sedang sujud diwaktu sembahyang Tahajjud dan beliau sedang memanjatkan do’a begini : “Wahai Allah ! Jiwa ragaku tengah bersujud kepada Engkau. Hatiku beriman kepada Engkau. Wahai Tuhanku! Kedua tanganku tengah menggapai dihadapan Engkau ! Kezaliman apapun terhadap dirikuku yang aku perbuat dengan kedua tanganku ini, semua nampak dihadapan Engkau. Wahai Tuhan Yang Maha Agung! Dari-Mu kami mengharapkan perkara yang besar! Ma’afkanlah semua dosa besar-ku!” Setelah selesai salat tahajjud Hazrat Rasulullah bersabda kepada-ku : “Hai Aisyah ! Malaikat Jibril telah mengajar aku memanjatkan do’a seperti itu. Dan engkau juga sering-seringlah membaca do’a itu !”

Tengoklah melalui hamba yang kamil ini Allah swt telah mengumumkan bahwa : “  Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah  untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al An’aam : 163) Tidak ada suatu pekerjaan untuk kepentingan diri-ku sendiri. Atau kukerjakan menurut kehendak diri-ku. Atau dikerjakan atas nama diri pribadi-ku. Melainkan setiap amalan-ku dan setiap urusan-ku semata-mata untuk keridhaan Allah swt. Bagaimana hamba Allah yang kamil ini menyatakan dirinya sebagai hamba-Nya yang sungguh-sungguh kamil (sempurna). Dengan sangat merendah diri dan dengan rasa takut beliau memanjatkan do’a kepada Khaliq-nya katanya, Hai Allah ! Aku telah aniaya terhadap diriku maka ampunilah dosa-dosa-ku ! Sebetulnya beliau telah menegakkan contoh dan teladan bagi kita semua. Bahwa manusia tidak boleh merasa sombong atas suatu kebaikan yang telah dilakukannya. Bahkan sambil merendahkan diri dia harus tunduk dihadapan Tuhan dengan rasa syukur atas kebaikan yang telah dia lakukannya itu. Kemudian mohonlah kasih sayang dari pada-Nya.

Ada satu segi lain lagi tentang sirat beliau saw yang kaitannya dengan keadilan dan musawat (persamaan hak). Beliau saw bersabda : “Pada zaman dahulu ada satu kaum sebelum kalian telah binasa disebabkan apabila ada salah seorang dari pembesar mereka berbuat kesalahan atau pelanggaran ia dibiarkan (tidak dikenai hukuman). Namun apabila ada seorang yang lemah dan miskin terlibat dalam suatu kesalahan atau pelanggaran maka terhadapnya dikenakan sangsi atau hukuman. Hal seperti ini tidak boleh terjadi didalam ummatku !” Akan tetapi jika kita perhatikan keadaan zaman sekarang akan nampak seringkali terjadi perlakuan tidak adil ditengah-tengah masyarakat bahkan ditengah-tengah masyarakat Muslim juga sering terjadi. Pada suatu waktu dizaman Rasulullah saw ada seorang perempuan terkenal dalam sebuah Kabilah dan dia dari keluarga baik-baik dan kedudukannya ditengah-masyarakat juga baik namanya juga Fatimah, ia telah mencuri. Hazrat Rasulullah saw telah mengenakan hukuman terhadapnya. Seorang sahabah telah berusaha untuk menyelamatkan supaya ia jangan dikenai hukuman, akhirnya tidak ada seorangpun yang berani menghadap Rasulullah saw. Maka mereka telah menyuruh Hazrat Usamah untuk menyampaikan pesan pembelaan mereka kepada Hazrat Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw mengetahui pesan pembelaan itu, maka muka Rasulullah saw pun berobah karena timbul rasa marah. Dan bersabda : “Apakah kalian berbicara tentang perempuan itu ? Dengarlah ! Jika anakku Fatimah berbuat dosa (mencuri) seperti itu pasti aku menghukumnya seperti ini juga.” Itulah contoh keadilan yang beliau tunjukkan.

Pada suatu waktu Abur Zar Ghaffari r.a. meriwayatkan katanya, saya pergi kepada Rasulullah saw memberi dukungan atau rekomendasi bagi dua orang lelaki dengan harapan kedua orang ini akan diberi tugas untuk memungut dan mengelola harta zakat. Maka Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Hai Abu Dzar ! Seseorang yang meminta sesuatu kedudukan didalam perkhidmatan agama, kami tidak akan memberinya kedudukan itu. Jika Tuhan sendiri memberi kedudukan itu kepadanya maka Dia akan memberi taufiq dan menolongnya juga untuk menjalankan tugasnya, jika seseorang ditunjuk untuk melakukan pengkhidmatan tanpa diminta, maka Allah swt memberi taufiq dan menolongnya untuk menjalankan tugasnya bahkan Allah swt memberkati pekerjaannya itu. Apabila orang itu sendiri meminta kedudukan atau meminta pekerjaan itu maka didalam pekerjaannya akan timbul keburukan. Kepada orang seperti itu Tuhan akan berfirman : Biarlah ia sendiri telah meminta tugas itu dan menganggap dirinya pandai untuk pekerjaan itu, maka semua tanggung jawabnya akan dia pikul sendiri.”

Jadi, ingatlah menginginkan kedudukan termasuk kehendak atau ambisi pribadi yang tidak disukai oleh Allah swt, yaitu manusia telah menyatakan banyak keinginan pribadinya. Pada zaman sekarang didalam Jema’at juga dimana pendidikan dan taribiyyat sangat kurang diberikan terhadap anggota, mereka menginginkan kedudukan didalam Jema’at. Dan kadangkala disebabkan mereka tuna ilmu pengetahuan apabila terjadi pemilihan anggota pengurus mereka memberi dan mengambil suara juga. Namun sekarang Jema’at sudah banyak mendapat kemajuan dan banyak  yang sudah mengetahui peraturan didalam Jema’at kecuali yang baru-baru masuk kedalam Jema’at. Sebab dikeluarkannya peraturan Jema’at yang ketat didalam pemilihan agar hasilnya sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Kalian jangan menginginkan kedudukan (didalam Islam). Memberi suara bagi diri sendiri maksudnya ia mengaku pakar didalam kedudukan (jawatan) itu dan tidak ada orang lain yang lebih pakar dari pada dirinya. Oleh sebab itu pilihlah saya untuk kedudukan itu. Demikianlah apabila pemilihan tengah berlangsung banyak orang yang berbuat seperti itu. Jika seseorang tidak memberikan suaranya disebabkan terpaksa oleh peraturan Jema’at, maka dia tidak akan menggunakan suaranya. Seseorang yang tidak menggunakan suaranya juga dapat dipahami bahwa ia menganggap dirinya pakar sekalipun ia tidak bisa memilih disebabkan peraturan Jema’at telah menghadkannya. Akan tetapi ada juga orang yang menganggap tidak ada orang lain yang mempunyai kepakaran seperti yang dia miliki, namun ia sendiri tidak menggunakan suaranya atau ia tidak ikut memilih. Orang-orang Ahmadi harus menghindarkan diri dari perbuatan demikian sebab itu tarbiyat sangat perlu untuk Jema’at. Jika seseorang mempunyai kebolehan tentang sesuatu maka kebolehannya itu bisa dikemukakan kepada para anggota pengurus. Tanpa menyandang kedudukan apapun didalam Amla ia bisa juga berkhidmat kepada Jema’at. Jika memang ia bermaksud untuk meraih keridhaan Allah swt maka kedudukan sebagai anggota pengurus bukan perkara yang sangat penting untuk itu.

Jadi, setiap orang Ahmadi baik yang sudah lama berada didalam Jema’at maupun para anggatu Jema’at yang baru masuk dan juga anak-anak muda kita harus memperhatikan masalah tersebut. Saya lihat kadang-kadang ada anggota-anggota Jema’at lama juga karena menganggap diri mereka sudah banyak berpengalaman menghendaki kedudukan didalam Jema’at. Perkara tersebut diatas harus menjadi perhatian sepenuhnya bagi mereka itu. Urusan keanggotaan pengurus harus diluar keinginan diri pribadi, dengan sungguh-sungguh jangan mempunyai keinginan untuk mendapat kedudukan. Para pemimpin harus selalu ingat kepada sabda Hazrat Rasulullah saw yaitu : “ Pemimpin adalah khadim Bangsa.” Pada suatu waktu Hazrat Rasulullah saw bersabda kepada Hazrat Abu Bakar r.a. : “Pangkat atau kedudukan adalah sebuah amanat dan manusia sungguh lemah. Jika tidak menunaikan hak amanat tentu akan ditanya pertanggungan jawabnya. Maka amanat ini (khidmat ini) harus dilaksanakan dengan kemampuan (kepakaran) sepenuhnya sambil merendahkan diri.” Jadi pertama yang harus diingat yaitu, pemimpin adalah khadim Bangsa. Jalankanlah tugas pengkhimatan itu sambil banyak-banyak memohon do’a kepada Allah swt, supaya Dia memberi bimbingan setiap sa’at dan setiap menjalankan tugas pengkhidmatan itu. Maka barulah petugas itu akan mampu menjalankan kewajiban pengkhidmatannya dengan sebaik-baiknya. Kadangkala beberapa orang datang kepada saya dan memberitahukan kedudukan mereka sebagai anggota pengurus. Maka saya katakan kepada mereka bahwa ini bukan kedudukan melainkan pengkhidmatan. Jika seseorang memahami arti pengkhidmatan itu betul-betul barulah ia akan mampu menjalankan pengkhidmatan itu dengan sebaik-baiknya.

Beberapa contoh yang telah saya uraikan diatas tentang pengkhidmatan, keadilan dan tentang persamaan didalam beberapa hukum atau peraturan, dan tentang kesederhanaan dapat kita saksikan didalm setiap segi kehidupan Hazrat Rasulullah saw. Apabila beliau sedang dalam perjalanan bersama para sahabah sedangkan binatang tunggangan sangat kurang, dan jumlah penumpang diabagi-bagi kepada para pemilik binatang tunggangan untuk diangkut,  maka beliau berikan kendaraan tunggangan beliau itu kepada sahabah yang berkhidmat bersama beliau atau kepada peserta yang sangat lemah dan muda dari segi umur dan beliau sendiri berjalan kaki disampingnya. Demikianlah contoh keadilan dan musawat yang telah beliau tegakkan. Kemudian tengoklah apa yang telah difirmankan Tuhan sebagai berikut :

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاَنُ قَوْمٍ عَلى اَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Artinya : Dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil ; itu lebih dekat kepada Taqwa. (Al Maidah : 9) Demikianlah firman Allah swt. Dalam hal ini Hazrat Rasulullah saw telah menunjukkan contoh yang sangat agung, ketika diperoleh kemenangan diatas Kubu orang-orang Yahudi yang sangat masyhur di Khaibar. Kawasan tanah mereka yang jatuh ketangan Islam dibagikan kepada para mujahidin yang ikut serta didalam peperangan itu. Tanah yang dibagikan itu adalah kawasan yang sangat subur sekali, terdiri dari kebun-kebun kurma yang sangat bagus. Ketika sudah sampai musim panen kurma dan sampai kepada pembagian hasil buah-buahannya sesuai dengan peraturan pembagiannya, Hazrat Abdullah Bin Suhail telah telah pergi bersama anak paman beliau bernama Maisah untuk membagikannya. Sampai disana mereka berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Ketika Hazrat Abdullah Bin Suhail pergi dari sana ke suatu tempat dan meyendiri beliau telah dibunuh oleh seseorang tak dikanal. Mayat beliau dibuang kedalam sebuah lubang. Kejadian itu sungguh jelas kemungkinan pembunuh beliau itu orang Yahudi. Hazrat Abdullah Bin Suhail orang sangat baik dan terkenal dikalangan para sahabah, tidak mungkin orang Islam yang telah membunuh beliau. Besar sekali kemungkinan orang Yahudilah yang telah membunuh beliau itu. Bagaimanapun masalah itu sampai kepada Nabi Muhammad saw. Tuduhan pembunuhan ditujukan terhadap orang-orang Yahudi dan memang betul demikian. Hazrat Rasulullah saw telah bertanya kepada Muhisah saudara sepupu Abdullah Bin Suhail: Apakah engkau berani bersumpah bahwa orang-orang Yahudi yang telah membunuh ? Beliau jawab : “Saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri saya tidak berani bersumpah.” Maka Hazrat Rasulullah saw bersabda : “ Sekarang akan diambil sumpah dari orang-orang Yahudi, apakah mereka yang telah membunuh Abdullah Bin Suhail itu? Orang-orang Yahudi menyatakan diri bersih tidak membunuhnya.” Maka Muhisah berkata kepada Hazrat Rasulullah saw : “Apa buktinya kita percaya kepada perkataan orang-orang Yahudi ini, mereka berani mengucapkan sumpah palsu walaupun seratus kali ?” Akan tetapi oleh karena keadilan yang dituntut, maka jika orang-orang Yahudi telah bersumpah biarkan mereka bersumpah.” Segala biaya kematian Abdullah Bin Suhail akhirnya dipenuhi dari Baitul Mal. Demikianlah keadilan yang beliau tegakkan. Beliau tidak meninggalkan keadilan didalam sisi kehidupan bagaimanapun. Jika ditinjau dari sisi apapun maka akan nampak contoh yang sangat baik (uswah hasanah) Hazrat Rasulullah saw.

Keadilan yang telah saya beri contoh didalam kehidupan Hazrat Rasulullah saw begitu tinggi jauh berbeda dengan keadilan masa sekarang yang kita saksikan setiap hari yang dilakukan oleh mereka yang berpakaian jubah sangat seram, mereka mengadakan majlis besar-besar miladun Nabi. Didalam majlis Miladun Nabi itu selain dari pada menghina dan mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan nada keras dan kotor tidak ada acara lain lagi didalam perayaan miladun nabi merela itu. Mereka mengangungkan khataman nubuwwat dengan kata-kata yang muluk-muluk keluar dari mulut mereka, dan dengan mulut mereka itu juga mereka menghina Hazrat Masih Mau’ud a.s. dengan kata-kata tidak wajar dan biadab. Kemudian bandingkanlah bagaimana caranya sahabah r.a. itu yang telah memberi tarbiyyat. Sekalipun mereka menjadi saksi dan menyaksikan keadaan pada waktu itu akan tetapi oleh karena tidak melihat dengan mata kepala sendiri beliau tidak berani bersumpah. Akan tetapi pada zaman sekarang orang-ini orang-orang yang mengenakan jubah besar-besar dan seram itu, menda’wakan diri pembela Islam sambil menyatakan sumpah mengajukan orang-orang Ahmadiyah ke meja pengadilan. Mereka pergi kekantor polisi memberi kesaksian palsu di hadapan mereka, pernyataan yang sangat keji dilakukan oleh mereka, sambil mengeluarkan kata-kata busuk dari mulut mereka. Hati mereka kosong dari rasa takut terhadap Tuhan. Jika orang-orang ini menapak diatas jalan uswah hasanah Hazrat Rasulullah saw pasti mereka akan merasa takut terhadap Tuhan. Muhisah yang mengatakan tentang sumpah orang-orang Yahudi katanya, “Apa buktinya kita percaya kepada orang-orang Yahudi, mereka akan bersumpah seratus kali” sekarang tengoklah perkataan itu betul-betul tepat jika dinisbahkan kepada orang-orang berjubah seram ini.

Semoga Alah swt mengasihani orang-orang muslim yang bersih hati yang juga telah menjadi mainan orang-orang yang menamakan diri para Ulama berjubah itu. Dan mereka telah bersepadu dengan orang-orang yang menamakan diri Ulama itu karena permainan lidah mereka yang telah memukau pikiran mereka. Allah swt telah melarang bahwa orang-orang muslim tidak boleh menumpahkan darah sesama muslim lainnya. Sedangkan pada zaman sekarang orang-orang ini menumpahkan darah orang-orang muslim lain dengan cara yang sangat kejam seperti menyembelih seekor binatang yang tidak beharga. Hazrat Rasulullah telah memberi nasihat terakhir pada kesempatan Hajjatul Wada (Hajj terakhir) beliau bersabda : “Bagi kalian untuk menjaga kehormatan darah sesama muslim dan menjaga harta benda mereka wajib seperti wajibnya kalian menjaga kehormatan hari dan bulan yang mulia ini.” Sabda beliau itu telah meletakkan tanggung jawab seseorang terhadap yang lain. Atau menjaga darah dan harta sesama orang muslim. Sekarang apa yang tengah terjadi, di Pakistan hampir setiap hari terjadi seorang menamakan diri muslim merampok harta orang Islam lainnya, harta orang-orang Ahmadi dirampok atas nama Islam. Padahal Hazrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah adalah orang muslim.

Semoga Allah swt mengasihani orang-orang muslim ini dan semoga Dia memberi taufiq kepada mereka untuk menjadi orang-orang yang benar berjalan diatas uswah hasanah Hazrat Rahmatul lil Alamin, Rasulullah saw supaya mereka menjadi pewaris kasih sayang Allah swt. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjalani kehidupan sesuai dengan uswah hasanah Hazrat Rasulullah saw. Amin !

---------------------

Sumber: Khutbah Jum’ah Hazrat Khalifatul Masih v atba. tanggal 13 Maret 2009 dari Baitul Futuh London, U.K. Tentang : Memperingati Siratun Nabi yakni Kehidupan Suci Rasulullah saw Alihbahasa dari audio urdu oleh Mln. Hasan Basri

 

01

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى ْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

Abad Islam yang terkenal paling baik adalah permulaan berdirinya Agama Islam sampai tiga abad berikutnya, yang disebut tiga abad terbaik. Didalam abad-abad itu terdapat orang-orang yang sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw. Kecintaan mereka terhadap Hazrat Rasulullah saw sangat tinggi derajatnya. Beliau-beliau itu mengetahui banyak sekali sunnah-sunnah Rasulullah saw. Dan beliau-beliau itu sangat patuh sekali melaksanakan syari’at Agama Islam. Sekalipun demikian pada zaman beliau-beliau itu yakni zaman para sahabah dan juga pada zaman para tabi’in yakni orang-orang yang berjumpa dan bergaul dengan para sahabah, tidak terdapat riwayat adanya perayaan atau peringatan Miladun Nabi. Padahal, sebagaimana telah saya katakan, bahwa beliau-beliau itu sangat mencintai dan sangat mematuhi sunnah-sunnah Hazrat Rsulullah saw.

Dikatakan bahwa orang yang memulai menganjurkan untuk memperingati atau merayakan Miladun Nabi itu adalah Abdullah Muhammad Bin Muhammad Abdul Ghada. Yang para pengikutnya disebut Fatmi. Mereka menisbahkan diri berasal dari keturunan Hazrat Ali r.a. Dan mereka termasuk dalam kelompok mazhab Bathini. Mazhab Bathini ini percaya bahwa sebagian dari pada Syari’at itu ada yang zahir atau nampak dan sebagian lagi tidak nampak atau tersembunyi. Menurut mereka dengan cara menipu memukul atau membunuh para penentang juga diperbolehkan. Banyak lagi hal-hal yang menyimpang yang menunjukkan banyak sekali bid’ah-bid’ah yang terdapat didalam ajaran mazhab mereka itu yang dinisbahkan kepada kitab mereka.

Jadi, orang-orang pertama yang melakukan perayaan Miladun Nabi adalah orang-orang yang tergabung didalam mazhab Bathini ini. Dan cara yang mereka lakukan itu benar-benar bid’ah telah dibawa masuk kedalam ajaran Islam yang sejati. Mazhab ini terdapat didalam pemerintahan Mesir (Egypt) pada tahun 362 Hijrah. Selain dari memepringati Miladun Nabi mereka membuat peringatan atau perayaan lainnya lagi, misalnya yaumi asyura, miladun Nabi, milad yakni hari kelahiran Hazrat Ali , milad, hari kelahiran Hazrat Hasan, milad Hazrat Husen, milad Hazrat Fatimah Az Zahra. Mereka merayakan hari pertama dan hari pertengahan bulan Rajab, merayakan hari pertama dan pertengahan bulan Sya’ban, malam khataman Qur’an dan perayaan bermacam-macam didalam bulan Ramadhan, banyak sekali perayaan-perayaan yang mereka lakukan, yang telah menjadikannya bid’ah-bid’ah didalam Islam.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa diantara orang-orang Islam ada juga beberapa golongan atau kelompok Islam yang tidak sepaham dengan melakukan perayaan miladun nabi ini. Banyak firqah atau golongan yang sama-sekali tidak melakuan perayaan miladun Nabi. Dan mereka menyatakan “bid’ah” terhadap perayaan miladun Nabi ini. Ada pula kelompok lain didalam Islam yang melakukannya secara berlebih-lebihan. Bagaimanapun kita akan tengok sabda Imam Zaman sekarang ini yang telah diutus oleh Allah swt sebagai Hakaman Adalan, bagaimana pendapat dan nasihat beliau tentang Miladun Nabi ini. Seorang telah bertanya kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. tentang Miladun Nabi, didalam jawabannya beliau bersabda : “ Mengenang dan membicarakan tentang wujud Hazrat Rasulullah saw adalah pekerjaan yang sangat baik sekali. Bahkan menurut riwayat hadis mengenang dan membicarakan tentang para Nabi atau para wali Allah rahmat Tuhan turun kepada mereka dan bahkan Allah swt sendiri menganjurkan untuk mengenang dan menyebut-nyebut para nabi-Nya. Akan tetapi jika membicarakan nabi itu disertai bid’ah-bid’ah yang menyelubungi tauhid Ilahi maka tidak diperbolehkan. Tempatkanlah keagungan Tuhan bersama Tuhan dan keagungan Nabi bersama Nabi. Para Maulvi zaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata berbau bid’ah dan bid’ah-bid’ah itu bertentangan dengan kehendak Allah swt. Jika memperingatinya tidak disertai dengan bid’ah namun hanya dengan nasihat atau ceramah, jika didalam acara itu diterangkan mengenai kebangkitan Rasulullah saw, mengenai kelahiran beliau atau mengenai wafat beliau saw maka hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita tidak merasa perlu untuk menyusun sebuah peraturan atau sebuah kitab tentang itu.”

Perayaan miladun nbai itu jika berkaitan dengan sirat atau riwayat kemulyaan Rasulullah saw tentu baik sekali, namun pada masa sekarang ini khasnya di Pakistan maupun di Hindustan, peringatan miladun nabi itu sudah menyimpang dari maksud semula menjelaskan sirat atau riwayat Nabi Muhammad saw melainkan sudah campur-baur dengan cerita politik. Atau perayaan itu digunakan untuk melemparkan tuduhan-tuduhan satu golongan kepada golongan lain. Perayaan apapun yang dilakukan di Pakistan, mula-mula menceritakan sedikit sirat atau kehidupan Nabi kemudian disambung dengan caci maki yang berlebihan dan kata-kata nonsense serta kotor terhadap wujud suci Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.Dan mereka membuat nama beliau jadi sasaran perolokan dan penghinaan.

Beberapa hari yang lalu para Maulvi Ghair Ahmadi mengadakan jalsah miladun Nabi dikota Rabwah dan melakukan pawai keliling kota Rabwah. Tujuan jalsah miladun nabi mereka hanya untuk mencaci maki Ahmadiyah dan menunjukkan rasa benci dan dengki menanam benih permusuhan terhadap Jema’at Ahmadiyah. Jalsah atau pertemuan mereka atas nama miladun nabi seperti itu tidak ada faedahnya sama sekali. Wujud Hazrat Rasulullah saw sungguh berberkat sekali. Beliau datang ke dunia sebagai rahmatul lil ‘alamin. Musuh-musuh-pun dido’akan oleh beliau sambil menangis dihadapan Allah swt. Hazrat Aisyah r.a. meriwayatkan katanya : “Pada suatu malam saya bangun ikut sembahyang Tahajjud bersama Rasulullah saw. Pada waktu itu beliau terus-menerus berdo’a sambil menangis memohon kepada Allah swt, wahai Allah ! Ma’afkanlah kaumku ini dan berilah taufik kepada mereka untuk menggunakan akal mereka !!

Namun, apa yang dilakukan oleh para Mullah pada zaman sekarang diwaktu mereka merayakan miladun nabi? Mereka dengan menyebut orang-orang Ahmadi ini Qadiani mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan bahasa yang sangat kotor dan keji. Mereka melemparkan tuduhan-tuduhan palsu sama sekali tidak berasas terhadap orang-orang Ahmadi. Sedangkan contoh teladan Hazrat Rasulullah saw telah terbukti demikian indahnya. Ketika disuatu medan perang seorang sahabah tengah mengejar untuk membunuh seorang musuh, kemudian ketika musuh itu sudah terpojok, serentak ia membaca Kalimah Syahadat. Akan tetapi sahabah itu langsung membunuhnya juga. Ketika peristiwa itu dilaporkannya kepada Hazrat Rasulullah saw, beliau saw dengan nada tidak senang dan marah bertanya kepada sahabah itu : “ Apakah sudah engkau belah dadanya bahwa dia mengucapkan kalimah syahadah itu karena takut dari pedang engkau ?” Sahabah itu sangat menyesal sekali atas kesalahannya itu, sambil berkata : “ Aduhai !! Alangkah baiknya jika aku ini baru beriman pada hari ini !!” Akan tetapi apa yang tengah dilakukan oleh para mullah sekarang ini ?? Keadaannya sangat terbalik !! Bagaimanapun mereka sudah terbiasa dengan perbuatan yang salah itu.

Sekarang saya ingin mengemukakan sabda-sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. Diantaranya beliau bersabda : “ Semata-mata memperingati kehidupan suci Rasulullah saw adalah amal perbuatan yang sangat baik. Dengan amalan itu kecintaan terhadap beliau tambah meningkat. Dan dengannya timbul satu daya tarik dan semangat untuk menta’ati perintah-perintah beliau saw. Didalam Kitab Suci Al Qur’an banyak terdapat perintah untuk mengingat riwayat para Anbiya misalnya Allah swt berfirman :

وَاذْكُرْ فِي اْلكِتَابِ اِبْرَاهِيْمَ

Artinya : Dan ingatlah didalam kitab tentang Ibrahim

Akan tetapi didalam memperingati para Anbiya itu sekarang kerap kali dicampuri dengan bid’ah-bid’ah maka ia menjadi haram. Ingatlah! Tujuan utama Islam adalah menegakkan Tauhid. Pada zaman sekarang bisa dilihat bagaimana banyaknya bid’ah-bid’ah dilakukan didalam panggung-panggung perayaan miladun Nabi. Ilmu pengetahuan yang baik tentang miladun nabi itu sudah dicemari dan dirusak oleh bid’ah-bid’ah sehingga perayaan itu menjadi haram. Padahal mengingati wujud suci Hazrat Rasulullah saw menjadi penyebab turunnya rahmat dari Allah swt. Namun mereka melakukannya diluar batas syariat disertai bid’ah-bid’ah sehingga bertentangan dengan kehendak Allah swt.”

Kami sendiri tidak sependapat jika beliau a.s. harus membuat asas syariat baru. Karena itulah yang sedang terjadi sekarang dikalangan para Mullah. Setiap orang sesuai dengan kemauannya sendiri hendak menjadikannya sebagai syari’at. Seolah-olah ia sendiri membuat syaria’at. Didalam masalah miladun nabi itu telah dilakukan perayaan-perayaan secara kacau-balau. Disebabkan kejahilan dan kebodohan banyak pula orang mengatakan bahwa mengingat Hazrat Rasulullah saw sendiri pekerjaan haram. Na’udzubillahi min dzalik !! Mereka itu telah membuktikan kebodohan sendiri. Menyatakan haram terhadap berceramah atau bercerita tentang riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw sangat dungu dan bodoh sekali. Padahal patuh ta’at yang sesungguhnya kepada beliau menjadi sarana atau menjadi penyebab yang mendasar bagi orang yang akan menjadi kekasih Allah swt. Timbulnya semangat untuk patuh ta’at kepada beliau disebabkan seringnya mengingat dan mendengar kisah tentang beliau. Orang yang mencintai kekasihnya selalu mengingatnya dan sering menyebut-nyebut namanya. Memang ada kelompok orang-orang Islam yang pada acara miladun Nabi sedang berlangsung, mereka berdiri semua. Yang sedang duduk dilantaipun serentak berdiri semuanya karena menganggap pada waktu itu Hazrat Rasulullah saw pun sedang hadir bersama mereka. Inilah cara yang biasa mereka lakukan juga. Sudah menjadi kebiasaan apabila mereka sedang merayakan miladun Nabi mereka berdiri semua. Seorang Mullah sedang berceramah dan para hadirin sedang duduk dilantai, lalu penceramah mengatakan Hazrat Rasulullah saw sudah datang ditengah-tengah mereka. Tiba-tiba semua orang-orang yang sedang duduk itu serempak berdiri. Mereka yang menganggap Hazrat Rasulullah saw datang hadir ditengah-tengah mereka adalah perbuatan yang sangat berani. Mereka sungguh berani mengatakan demikian. Padahal majlis perayaan seperti itu dihadiri oleh orang-orang yang suka meninggalkan sembahyang juga. Bagaimana keadaan orang-orang duduk disana diantara mereka itu banyak juga yang tidak menunaikan sembahyang. Banyak diantara mereka setahun hanya dua kali mengerjakan sembahyang yaitu pada hari Eid saja dan mereka hanya rajin menghadiri acara-acara perayaan miladun Nabi seperti itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Banyak sekali yang hadir didalam acara-acara seperti itu orang-orang yang biasa meninggalkan salat, bahkan mereka pemakan uang renten (bunga uang) dan suka meminum-minuman keras. Apa hubungannya Majlis-majlis semacam itu dengan wujud suci Hazrat Rasulullah saw? Orang-orang seperti itu berkumpul didalam acara-acara itu hanya untuk show atau untuk mempertunjukkan diri saja . Fikiran semacam itu betul-betul sia-sia. Diantara mereka banyak orang-orang Wahabi yang tidak memberi tempat keagungan Hazrat Rasulullah saw didalam hati mereka. Sebetulnya mereka itu bukan orang-orang beragama. Padahal wujud para Anbiya adalah laksana hujan yang menurunkan air sejuk, mereka itu wujud-wujud cahaya yang cemerlang. Mereka adalah wujud kumpulan segala kemulyaan. Wujud mereka merupakan blessing atau berkat bagi dunia. Orang yang menganggap wujud-wujud beliau itu serupa dengan diri mereka sendiri, mereka telah berbuat zalim. Sesungguhnya menjalin kecintaan dengan para Wali dan para Anbiya meningkatkan kekuatan iman kita.”

Terdapat riwayat didalam hadis bahwa Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Surga adalah kedudukan yang sangat luhur. Dan saya akan berada didalamnya.” Seorang sahabat yang sangat mencintai beliau mendengar sabda beliau itu langsung menangis lalu berkata : “Ya Rasulallah saya sangat mencintai yang mulia !!” Beliau saw bersabda : “Engkau akan tinggal bersama-sama dengan aku !” Maksud beliau saw adalah barangsiapa yang mencintai beliau dia pasti akan tinggal bersama beliau didalam surga. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Golongan lain yang berikhtiar melakukan bid’ah-bid’ah yang berbau kemusyrikan didalam diri mereka tidak ada sebarang ruhaniyat. Orang-orang yang menyembah kuburan didalam diri mereka tidak ada keruhanian. Sesungguhnya perayaan yang didalamnya menceritakan tentang riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw menurut pendapat saya, seperti orang-orang Wahabi mengatakan : “tidak haram” patut diikuti. Orang-orang yang merayakan miladun Nabi sambil melakukan perkara-perkara bid’ah adalah haram.” Ada juga seorang telah menulis surat menanyakan masalah Miladun Nabi ini kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan beliau menuliskan jawabannya sebagai berikut : “Menurut pendapat saya jika didalamnya tidak terdapat sebarang perbuatan bid’ah, melakukan jalsah miladun Nabi, pidato atau ceramah menceritakan sirat Hazrat Rasulullah saw dan nazam atau qasidah memuji Hazrat Rasulullah saw, Majlis seperti itu sangat baik dan Majlis seperti itu harus sering diadakan.”

Dari sabda-sabda beliau a.s. tersebut dapat diketahui bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw, beliau menghendaki supaya Majlis-majlis perayaan Siratun Nabi sering diselenggarakan untuk menguraikan kemuliaan atau riwayat hidup beliau yang sangat agung itu. Allah swt berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

Artinya : Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencitai kamu. (Ali Imran : 32)

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Pernahkah Hazrat Rsulullah saw membaca Al Qur’an semata-mata demi mendapatkan sepotong roti dari para sahabah ? Para Mullah zaman sekarang ini mengadakan majlis-majlis miladun nabi atau acara-acara lainnya lalu melakukan perkara-perkara bid’ah disusul dengan kesibukan membagi-bagi roti atau makanan. Dan karena acara dimulai dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an maka mereka menganggap roti atau makanan itu sebagai tabaruk banyak mengandung barkat. Padahal Allah swt berfirman : “ Jika kalian cinta kepada Allah swt maka ikutilah jejak langkah Hazrat Rasulullah saw.” Jika memang mereka ingin mengikuti jejak langkah Hazrat Rsulullah saw apakah mereka bisa membuktikan bahwa beliau pernah membaca Al Qur’an demi mendapatkan roti atau makanan ?? Jika beliau pernah membaca Al Qur’an semta-mata untuk tujuan mendapatkan sepotong roti atau sesuap makanan, maka kita akan melakukannya beribu-ribu kali lipat ganda banyaknya. Memang Hazrat Rsulullah saw suatu peristiwa pernah mendengar seorang sahabah membaca Al Qur’an dengan suara yang merdu dan beliaupun menangis ketika sampai kepada ayat ini

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۭ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰؤُلاَءِ شَهِيْدًا

Artinya : Maka, bagaimana keadaan mereka ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini (An Nisa : 42)

Hazrat Rasulullah senang sekali mendengar sahabah membaca Al Qur’an. Namun ketika pembacaan Qur’an itu sampai kepada ayat tersebut Rasulullah saw pun menangis. Namun tangisan beliau itu menunjukkan betapa beliau merendahkan diri dan sangat mencintai Allah swt, beliau merasa bagaimana Dia telah memberi kedudukan tinggi disisi-Nya. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :” Ketika beliau saw menangis mendengar ayat itu dan bersabda : “Cukup, cukup, saya tidak mampu mendengar ayat ini selanjutnya !” Beliau fikir bagaimana akan menjadi saksi dialam akhirat nanti.” Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Kami sendiri menghendaki agar ada seorang hafiz yang bisa membaca Qur’an dengan suara merdu, kami ingin mendengarnya.” Seperti itulah maksud mengikuti langkah Hazrat Rasulullah saw itu. Beliau a.s. bersabda lagi : “ Apa yang Hazrat Rasulullah saw telah tunjukkan teladan didalam setiap pekerjaan, itulah yang harus kita ikuti. Untuk membuktikan seseorang benar-benar mukmin sejati cukuplah dengan membuktikan dengan nyata apakah Rasulullah telah melakukan hal demikian atau tidak ? Jika tidak apakah beliau telah menyuruh untuk melakukannya? Hazrat Ibrahim a.s. adalah datuk moyang beliau dan beliau a.s. patut djunjung dan dihormati. Apa sebabnya beliau tidak menyuruh mengadakan peringatan maulid datuk moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahim a.s.? Rasulullah saw tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi Ibrahim a.s. Pendeknya pada hari maulud (kelahiran) Nabi Muhammad saw mengadakan peringatan atau perayaan atau mengadakan jalsah milad atau maulud tidak dilarang, dengan syarat didalamnya tidak boleh dilakukan sebarang perbuatan bid’ah. Didalam perayaan itu semata-mata diceritakan berbagai aspek dari sirat atau riwayat hidup Hazrat Rasulullah saw, tidak hanya setahun sekali menguraikan sirat atau riwayat hidup beliau saw itu bahkan sepanjang tahun kita boleh bahkan harus mengadakan jalsah siratun Nabi. Dan seperti itulah yang dilakukan oleh Jema’at Ahmadiyah. Jema’at Ahmadiyah diseluruh dunia selalu mengadakan jalsah siratun Nabi pada setiap kesempatan tidak terikat oleh waktu yang tertentu. Akan tetapi jika secara khas mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada waktu yang ditetapkan, lalu mengadakan jalsah atau pertemnuan untuk menguraikan kisah atau riwayat Hazrat Rasulullah saw mengenai akhlaq fadillah beliau saw dan sebagainya, jika diadakan di seluruh negara atau diseluruh dunia tidak dilarang. Akan tetapi didalamnya tidak boleh ada perbuatan bid’ah. Berdasarkan pandangan Hazrat Masih Mau’ud a.s. itulah saya sekarang akan menjelaskan beberapa segi dari sirat Hazrat Rasulullah saw. Supaya beberapa bagian dari sirat beliau saw itu bisa kita jadikan bahagian dari kehidupan kita sehari-hari. Barulah sesuai dengan firman-Nya kita akan dapat memperoleh kecintaan Allah swt. Dan barulah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah swt. Dan do’a-do’a kita juga mencapai tingkat kemaqbulan disisi-Nya. Banyak orang bertanya apakah kita boleh menjadikan Hazrat Nabi Muhammad saw sebagai wasilah (perantara) untuk memanjatkan do’a kepada Allah swt ? Mengikuti sunnah-sunnah beliau dan mencintai beliau sepenuhnya merupakan wasilah untuk memanjatkan do’a kepada Allah swt agar do’a kita memperoleh kemaqbulan disisi-Nya. Didalam do’a setelah mendengar azan juga kita diajarkan untuk menjadikan beliau wasilah (perantara) bagi kita.

Sebagian dari ayat yang saya bacakan tadi yang dikutip dari sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ‌ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencitai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Penngampun, Maha Penyayang. Maka bisa kita lihat sunnah apakah yang beliau lakukan yang harus kita ikuti ? Apa yang beliau lakukan dihadapan para sahabah beliau sehingga riwayatnya telah disampaikan kepada kita. Orang-orang dunia melakukan tuduhan terhadap Hazrat Rasulullah saw bahwa beliau, na’uzu billah, telah menguasai sebagian daerah demi menunjukkan keagungan dan kekuasaan beliau dan beliau telah menjadikannya sebagian dari kekuasaan pemerintahan beliau. Kemudian terhadap isteri-isteri suci beliau telah dilontarkan bermacam-macam keburukan. Begitu kotornya tuduhan yang dilontarkan para penentang Islam terhadap beliau-beliau itu sehingga lidah tidak kuasa membacanya. Bahkan di Amerika telah ditulis sebuah buku yang telah ditanggapi oleh seseorang bahwa orang-orang Kristian telah menulis buku yang isinya betul-betul ngawur dan sangat menusuk perasaan sehingga kita tidak sampai hati membacanya. Semua tuduhan yang dikenakan terhadap Hazrat Rasulullah saw bukanlah perkara baru. Selalunya tuduhan itu dilontarkan terhadap wujud suci beliau saw. Ketika beliau mulai menda’wakan diri sebagai Utusan Allah swt atas perintah-Nya, disa’at itu para kuffar Mekkah menganggap beliau telah menda’wakan diri demi kepentingan dunia beliau. Dan melalui paman beliau orang-orang Mekkah telah mengirimkan pesan katanya, janganlah Muhammad mencaci maki sembahan kami dan janganlah beliau menablighkan sesuatu ajaran agama kepada kami. Sebagai gantinya kami siap memberi kedudukan kepada beliau sebagai pemimpin kami. Kekuasaan dan kebesaran yang ada pada kami akan siap diserahkan kepada beliau. Kami siap memberi harta kekayaan. Jika beliau memerlukan seorang wanita paling cantikpun kami siap menyediakannya. Maka jawaban yang beliau berikan adalah : “Jika orang-orang ini meletakkan mata hari diatas telapak tangan kananku dan meletakkan bulan diatas telapak tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti menjalankan tugas aku. Aku diutus oleh Allah swt supaya aku membeberkan segala macam keburukan mereka dan aku hendak memberi petunjuk agar mereka melangkah diatas jalan yang lurus. Jika untuk itu semua aku harus mengorbankan nyawaku maka dengan senang hati akan aku serahkan seluruh jiwa ragaku. Kehidupanku telah diwaqafkan dijalan Tuhan ini. Rasa takut mati tidak bisa menghalangi aku dari jalan ini. Dan tidak ada sesuatu keinginan yang bisa menghalangi aku dari jalan Tuhan ini.”

Orang-orang dunia selalu menganggap sebagai perkara dunia terhadap tugas suci yang Allah swt serahkan kepada beliau saw. Oleh sebab itu orang-orang kuffar Mekkah telah menawarkan perkara-perkara dunia serupa itu. Dan beliau telah menolak segala macam tawaran orang-orang kuffar itu dan telah menjelaskannya bahwa beliau sama sekali tidak mengharapkan kekayaan atau kepangkatan dunia betapapun tinggi dan mulianya kedudukan itu menurut pandangan mereka. Beliau bersabda : “ Aku telah diutus oleh Zat Yang memiliki Langit dan Bumi ini. Beliau sebagai Nabi terakhir yang akan mengibarkan bendera diatas seluruh permukaan bumi. Dan pengumuman beliau tentang itu Allah swt telah menurunkan ayat ini :

قُلْ اِنَّ صَلاَ تِىْ وَنُسُكِىْ وَ مَحْيَاىَ وَمَمَاتِىْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن

Artinya : Katakanlah , “ Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al An’aam : 163). Demikianlah kedudukan kecintaan beliau terhadap Allah swt dari ujung rambut kepala sampai ujung jari kaki beliau. Beliau tidak memerlukan kebesaran dan kepangkatan atau kekayaan dunia. Beliau memerlukan kerajaan Allah sawt Yang Tunggal diatas dunia. Dan untuk itulah beliau menanggung setiap kesusahan dan kesulitan. Beliau mengumumkan kepada dunia : “ Jika kalian menghendaki kehidupan yang kekal abadi maka ikutilah aku dan hasilkanlah kedudukan salat kalian seperti yang telah aku perlihatkan contohnya bagi kalian. Terbenam didalam ibadah-lah terletak jaminan sesungguhnya bagi kehidupan manusia. Dan sebelum kematian yang sesungguhnya lewatilah kematian melalui pengurbanan yang contohnya paling baik telah aku tegakkan bagi kalian. Oleh sebab itu apabila kematian yang sesungguhnya telah terjadi maka kehidupan yang kekal abadi akan segera dimulai. Yang akan menjadi sarana bagi manusia untuk meraih keridhaan Allah swt.

Maka kedudukan salat dan pengurbanan yang sangat luhur itu telah diraih oleh Hazrat Rasulullah saw sehingga beliau telah menciptakan pandangan baru yang jelas bagi tujuan kehidupan dan kematian manusia. Dan Allah swt telah mengumumkan melalui beliau saw bahwa, mengapa kalian telah menawarkan segala kenikmatan dunia kepadaku? Dan mengapa kalian telah mengancam aku dengan kezaliman dunia? Semua pekerjaan dan amalan-amalan-ku hanya untuk Allah swt. Barangsiapa yang telah menyerahkan segala miliknya kepada Allah swt, baginya baik kehidupan dunia ini maupun kematian itu tidak ada nilainya. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Hazrat Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita semua bahwa seperti itulah contoh yag aku lakukan. Kalian juga dengan mengamalkan perintah فَاتَّبِعُوْنِىْ … ikutilah aku, harus melangkah kearah jalan ini.

Pada zaman sekarang ini juga dibeberapa negara didunia sedang dilakukan usaha menakut-nakuti dengan berbagai macam ancaman terhadap Jema’at Hazrat Asyiq Shadiq yakni Jema’at Ahmadiyah ini. Seperti di Pakistan setiap hari ada saja kejadian, demikian juga di Hindustan didaerah majority Muslim orang-orang Ahmadi khasnya para mubayi’in baru tengah diperlakukan dengan kejam dan dizalimi diluar batas peri kemanusiaan. Sehingga di negara-negara Eropa juga, seperti di Bulgaria telah diterima laporan beberapa hari yang lalu, bahwa sekarang disana juga para Ahmadi telah diperlakukan dengan zalim. Disana karena perintah mufti tujuh delapan orang Ahmadi baru telah ditangkapi polisi dan mereka telah diperlakukan dengan kekerasan diluar perikemanusiaan. Namun dengan karunia Allah swt keimanan semua orang Ahmadi baru itu tetap kuat dan teguh. Maka setiap orang Ahmadi dimanapun berada harus selalu ingat bahwa tidak ada satu jenis kesusahan atau penganiayaan-pun yang tidak dialami oleh Hazrat Rasulullah saw dan oleh para sahabah beliau rodhiallhu ta’ala ’anhum. Kita ini satu perpuluhan seratuspun (seperseratuspun) tidak mengalami kesusahan dan kesengsaraan dari yang dialami oleh beliau saw dan para sahabah beliau r.a. Jika kita faham kepada asas ini bahwa segenap ibadah kita dan pengurbanan kita diserahkan kepada Allah swt dan kita tetap diatas pendirian bahwa kehidupan kita dan kematian kita semata-mata hanya untuk Allah swt maka dimana kita secara perorangan akan menjadi pewaris kehidupan kekal abadi disana setiap orang Ahmadi didunia ini juga akan mendapat sarana untuk memberi kehidupan kepada ribuan orang yang telah mengalami kematian ruhani. Maka yang paling utama bagi kita adalah menekan diri masing-masing untuk meningkatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah swt dan setiap orang Ahmadi harus menjadi penggerak manusia didunia untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan teladan yang telah ditegakkan oleh Hazrat Rasulullah saw. Jika kehidupan kita sudah berada diatas jalan yang benar dan kita beramal sesuai dengan teladan Hazrat Rasulullah saw barulah kita akan mampu menyediakan sarana kehidupan ruhani kepada dunia sesuai dengan teladan Hazrat Rasulullah saw. Kita harus meningkatkan standar ibadah kita sesuai uswah hasanah yang ditinggalkan Hazrat Rasulullah saw bagi kita.

Bagaimanakah mutu ibadah Rasulullah saw, inilah riwayat dari Hazrat Siti Aisyah r.a. katanya : “Saya pernah bertanya kepada beliau : Siapakah kekasih Tuan yang sebenarnya?” Pada suatu hari saya mendapat giliran Rasulullah saw tinggal bersama saya. Pada suatu malam ketika saya bangun Rasulullah saw tidak ada ditempat tidur. Saya dengan rasa khawatir keluar rumah, nampaklah Rasulullah saw sedang bersujud beribadah kepada Allah swt dan beliau sedang berdo’a seperti ini : “Hai Tuhanku !! Ruhku dan hatiku sedang bersujud kepada Engkau!” Demikianlah pernyataan cinta sejati kepada Allah swt. Dan itulah jawaban bagi orang-orang yang melontarkan tuduhan kepada Hazrat Rasulullah saw. Kemudian bagaimana kecintaan Rasulullah saw terhadap Allah swt sekalipun dalam keadaan tidur, beliau bersabda : يَنَامُ عَيْنَيْنيْ وَلاَ تَنَامُ قَلْبِيْ Artinya : “Kedua mataku sudah tertidur namun hatiku tetap bangun.” Hati beliau bangun apa artinya ? Tiada lain maksudnya berzikir kepada Allah swt. Setiap badan beliau bergilir mengingatkan beliau kepada Allah swt. Do’a-do’a beliau saw dalam berbagai kesempatan telah memberi contoh secara amaliah kepada kita. Hal itu membuktikan bahwa setiap gerak-gerik beliau selalu ingat kepada Allah swt. Maka demikianlah gambaran yang telah diberikan oleh beliau saw kepada kita bahwa setiap amal perbuatan dan gerak-gerik orang mukmin bisa menjadi ibadah, jika semua hal itu dilakukan karena Allah swt dan karena mengingat Allah swt. Dengan niat bahwa amalan-amalan itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Misalnya pada suatu hari Hazrat Rasulullah saw pergi kerumah seorang abid, sahabah yang sangat patuh beribadah, sahabah itu baru selesai membuat sebuah rumah baru. Beliau saw melihat sebuah jendela atau tingkap dirumahnya. Baliau tahu mengapa dia membuat sebuah jendela. Demi tujuan tarbiyat beliau saw bertanya kepada sahabah itu : “Untuk apa engkau telah membuat jendela ini ?” Dijawab oleh sahabah itu : “Untuk udara dan cahaya masuk, ya Rasulallah!” Beliau bersabda : “Bagus sekali. Namun jika engkau membuat jendela atau tingkap ini dengan niat agar bisa mendengar suara azan dengan jelas, maka engkau akan mendapat ganjaran juga dari Allah swt disamping angin dan cahaya memang akan masuk juga !”

Terdapat didalam sebuah riwayat lagi Rasulullah saw bersabda : “Jika seorang suami karena Allah swt menyuapi isterinya dengan makanan maka ia juga akan mendapat pahala dari Allah swt.” Maksudnya bukan hanya sekedar menyuapi isteri sesuap nasi atau makanan, namun maksudnya ialah memberi segala keperluan kepada isteri dan anak-anaknya. Karena kewajiban seorang lelaki adalah menyediakan segala keperluan rumah tangganya. Dan jika dia berbuat demikian itu dengan niyat demi meraih keridhaan Allah swt, suami memenuhi segala keperluan isterinya karena segala-galanya telah berada dibawah tanggung jawabnya, dan anak-anaknya juga menjadi tanggung jawabnya, maka memenuhi kewajiban itu semua menjadi pahala bagi sang suami. Dan hal itu termasuk ibadah juga. Pada zaman sekarang sering terjadi pertengkaran dan kericuhan di rumah tangga disebabkan perkara kecil-kecil saja. Maka jika setiap orang Ahmadi berpikiran dan berprilaku seperti diatas, tentu mereka akan terhindar dari keburukan berupa pertengkaran dan kericuhan seperti itu. Isteri akan menjalankan kewajibannya, bahwa ia akan menjaga rumah tangga dan memelihara anak-anaknya serta mengkhidmati suaminya sebagaimana mestinya, jika ia fikir apa yang dilakukannya itu semata-mata demi Allah swt, tentu hal itu akan menjadi pahala baginya. Jadi, Hazrat Rasulullah saw telah memberitahukan kepada kedua belah pehak suami dan isteri, jika kalian beramal seperti itu maka semua perlakuan kalian berdua akan menjadi ibadah dan kalian berdua akan mendapat pahala dari Allah swt. Itulah perkara-perkara yang harus selalu diingat oleh setiap orang yang telah berkeluarga. Dan perkara kecil-kecil seperti itulah yang bisa menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan laksana surga ditengah-tengah keluarga.

Mengenai indahnya kedudukan ibadah Hazrat Rasulullah saw terdapat riwayat dari Hazrat Aisyah r.a. katanya, pada suatu malam saya melihat Hazrat Rasulullah saw sedang sujud diwaktu sembahyang Tahajjud dan beliau sedang memanjatkan do’a begini : “Wahai Allah ! Jiwa ragaku tengah bersujud kepada Engkau. Hatiku beriman kepada Engkau. Wahai Tuhanku! Kedua tanganku tengah menggapai dihadapan Engkau ! Kezaliman apapun terhadap dirikuku yang aku perbuat dengan kedua tanganku ini, semua nampak dihadapan Engkau. Wahai Tuhan Yang Maha Agung! Dari-Mu kami mengharapkan perkara yang besar! Ma’afkanlah semua dosa besar-ku!” Setelah selesai salat tahajjud Hazrat Rasulullah bersabda kepada-ku : “Hai Aisyah ! Malaikat Jibril telah mengajar aku memanjatkan do’a seperti itu. Dan engkau juga sering-seringlah membaca do’a itu !”

Tengoklah melalui hamba yang kamil ini Allah swt telah mengumumkan bahwa : “ Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al An’aam : 163) Tidak ada suatu pekerjaan untuk kepentingan diri-ku sendiri. Atau kukerjakan menurut kehendak diri-ku. Atau dikerjakan atas nama diri pribadi-ku. Melainkan setiap amalan-ku dan setiap urusan-ku semata-mata untuk keridhaan Allah swt. Bagaimana hamba Allah yang kamil ini menyatakan dirinya sebagai hamba-Nya yang sungguh-sungguh kamil (sempurna). Dengan sangat merendah diri dan dengan rasa takut beliau memanjatkan do’a kepada Khaliq-nya katanya, Hai Allah ! Aku telah aniaya terhadap diriku maka ampunilah dosa-dosa-ku ! Sebetulnya beliau telah menegakkan contoh dan teladan bagi kita semua. Bahwa manusia tidak boleh merasa sombong atas suatu kebaikan yang telah dilakukannya. Bahkan sambil merendahkan diri dia harus tunduk dihadapan Tuhan dengan rasa syukur atas kebaikan yang telah dia lakukannya itu. Kemudian mohonlah kasih sayang dari pada-Nya.

Ada satu segi lain lagi tentang sirat beliau saw yang kaitannya dengan keadilan dan musawat (persamaan hak). Beliau saw bersabda : “Pada zaman dahulu ada satu kaum sebelum kalian telah binasa disebabkan apabila ada salah seorang dari pembesar mereka berbuat kesalahan atau pelanggaran ia dibiarkan (tidak dikenai hukuman). Namun apabila ada seorang yang lemah dan miskin terlibat dalam suatu kesalahan atau pelanggaran maka terhadapnya dikenakan sangsi atau hukuman. Hal seperti ini tidak boleh terjadi didalam ummatku !” Akan tetapi jika kita perhatikan keadaan zaman sekarang akan nampak seringkali terjadi perlakuan tidak adil ditengah-tengah masyarakat bahkan ditengah-tengah masyarakat Muslim juga sering terjadi. Pada suatu waktu dizaman Rasulullah saw ada seorang perempuan terkenal dalam sebuah Kabilah dan dia dari keluarga baik-baik dan kedudukannya ditengah-masyarakat juga baik namanya juga Fatimah, ia telah mencuri. Hazrat Rasulullah saw telah mengenakan hukuman terhadapnya. Seorang sahabah telah berusaha untuk menyelamatkan supaya ia jangan dikenai hukuman, akhirnya tidak ada seorangpun yang berani menghadap Rasulullah saw. Maka mereka telah menyuruh Hazrat Usamah untuk menyampaikan pesan pembelaan mereka kepada Hazrat Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw mengetahui pesan pembelaan itu, maka muka Rasulullah saw pun berobah karena timbul rasa marah. Dan bersabda : “Apakah kalian berbicara tentang perempuan itu ? Dengarlah ! Jika anakku Fatimah berbuat dosa (mencuri) seperti itu pasti aku menghukumnya seperti ini juga.” Itulah contoh keadilan yang beliau tunjukkan.

Pada suatu waktu Abur Zar Ghaffari r.a. meriwayatkan katanya, saya pergi kepada Rasulullah saw memberi dukungan atau rekomendasi bagi dua orang lelaki dengan harapan kedua orang ini akan diberi tugas untuk memungut dan mengelola harta zakat. Maka Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Hai Abu Dzar ! Seseorang yang meminta sesuatu kedudukan didalam perkhidmatan agama, kami tidak akan memberinya kedudukan itu. Jika Tuhan sendiri memberi kedudukan itu kepadanya maka Dia akan memberi taufiq dan menolongnya juga untuk menjalankan tugasnya, jika seseorang ditunjuk untuk melakukan pengkhidmatan tanpa diminta, maka Allah swt memberi taufiq dan menolongnya untuk menjalankan tugasnya bahkan Allah swt memberkati pekerjaannya itu. Apabila orang itu sendiri meminta kedudukan atau meminta pekerjaan itu maka didalam pekerjaannya akan timbul keburukan. Kepada orang seperti itu Tuhan akan berfirman : Biarlah ia sendiri telah meminta tugas itu dan menganggap dirinya pandai untuk pekerjaan itu, maka semua tanggung jawabnya akan dia pikul sendiri.”

Jadi, ingatlah menginginkan kedudukan termasuk kehendak atau ambisi pribadi yang tidak disukai oleh Allah swt, yaitu manusia telah menyatakan banyak keinginan pribadinya. Pada zaman sekarang didalam Jema’at juga dimana pendidikan dan taribiyyat sangat kurang diberikan terhadap anggota, mereka menginginkan kedudukan didalam Jema’at. Dan kadangkala disebabkan mereka tuna ilmu pengetahuan apabila terjadi pemilihan anggota pengurus mereka memberi dan mengambil suara juga. Namun sekarang Jema’at sudah banyak mendapat kemajuan dan banyak yang sudah mengetahui peraturan didalam Jema’at kecuali yang baru-baru masuk kedalam Jema’at. Sebab dikeluarkannya peraturan Jema’at yang ketat didalam pemilihan agar hasilnya sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Kalian jangan menginginkan kedudukan (didalam Islam). Memberi suara bagi diri sendiri maksudnya ia mengaku pakar didalam kedudukan (jawatan) itu dan tidak ada orang lain yang lebih pakar dari pada dirinya. Oleh sebab itu pilihlah saya untuk kedudukan itu. Demikianlah apabila pemilihan tengah berlangsung banyak orang yang berbuat seperti itu. Jika seseorang tidak memberikan suaranya disebabkan terpaksa oleh peraturan Jema’at, maka dia tidak akan menggunakan suaranya. Seseorang yang tidak menggunakan suaranya juga dapat dipahami bahwa ia menganggap dirinya pakar sekalipun ia tidak bisa memilih disebabkan peraturan Jema’at telah menghadkannya. Akan tetapi ada juga orang yang menganggap tidak ada orang lain yang mempunyai kepakaran seperti yang dia miliki, namun ia sendiri tidak menggunakan suaranya atau ia tidak ikut memilih. Orang-orang Ahmadi harus menghindarkan diri dari perbuatan demikian sebab itu tarbiyat sangat perlu untuk Jema’at. Jika seseorang mempunyai kebolehan tentang sesuatu maka kebolehannya itu bisa dikemukakan kepada para anggota pengurus. Tanpa menyandang kedudukan apapun didalam Amla ia bisa juga berkhidmat kepada Jema’at. Jika memang ia bermaksud untuk meraih keridhaan Allah swt maka kedudukan sebagai anggota pengurus bukan perkara yang sangat penting untuk itu.

Jadi, setiap orang Ahmadi baik yang sudah lama berada didalam Jema’at maupun para anggatu Jema’at yang baru masuk dan juga anak-anak muda kita harus memperhatikan masalah tersebut. Saya lihat kadang-kadang ada anggota-anggota Jema’at lama juga karena menganggap diri mereka sudah banyak berpengalaman menghendaki kedudukan didalam Jema’at. Perkara tersebut diatas harus menjadi perhatian sepenuhnya bagi mereka itu. Urusan keanggotaan pengurus harus diluar keinginan diri pribadi, dengan sungguh-sungguh jangan mempunyai keinginan untuk mendapat kedudukan. Para pemimpin harus selalu ingat kepada sabda Hazrat Rasulullah saw yaitu : “ Pemimpin adalah khadim Bangsa.” Pada suatu waktu Hazrat Rasulullah saw bersabda kepada Hazrat Abu Bakar r.a. : “Pangkat atau kedudukan adalah sebuah amanat dan manusia sungguh lemah. Jika tidak menunaikan hak amanat tentu akan ditanya pertanggungan jawabnya. Maka amanat ini (khidmat ini) harus dilaksanakan dengan kemampuan (kepakaran) sepenuhnya sambil merendahkan diri.” Jadi pertama yang harus diingat yaitu, pemimpin adalah khadim Bangsa. Jalankanlah tugas pengkhimatan itu sambil banyak-banyak memohon do’a kepada Allah swt, supaya Dia memberi bimbingan setiap sa’at dan setiap menjalankan tugas pengkhidmatan itu. Maka barulah petugas itu akan mampu menjalankan kewajiban pengkhidmatannya dengan sebaik-baiknya. Kadangkala beberapa orang datang kepada saya dan memberitahukan kedudukan mereka sebagai anggota pengurus. Maka saya katakan kepada mereka bahwa ini bukan kedudukan melainkan pengkhidmatan. Jika seseorang memahami arti pengkhidmatan itu betul-betul barulah ia akan mampu menjalankan pengkhidmatan itu dengan sebaik-baiknya.

Beberapa contoh yang telah saya uraikan diatas tentang pengkhidmatan, keadilan dan tentang persamaan didalam beberapa hukum atau peraturan, dan tentang kesederhanaan dapat kita saksikan didalm setiap segi kehidupan Hazrat Rasulullah saw. Apabila beliau sedang dalam perjalanan bersama para sahabah sedangkan binatang tunggangan sangat kurang, dan jumlah penumpang diabagi-bagi kepada para pemilik binatang tunggangan untuk diangkut, maka beliau berikan kendaraan tunggangan beliau itu kepada sahabah yang berkhidmat bersama beliau atau kepada peserta yang sangat lemah dan muda dari segi umur dan beliau sendiri berjalan kaki disampingnya. Demikianlah contoh keadilan dan musawat yang telah beliau tegakkan. Kemudian tengoklah apa yang telah difirmankan Tuhan sebagai berikut :

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاَنُ قَوْمٍ عَلى اَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Artinya : Dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil ; itu lebih dekat kepada Taqwa. (Al Maidah : 9) Demikianlah firman Allah swt. Dalam hal ini Hazrat Rasulullah saw telah menunjukkan contoh yang sangat agung, ketika diperoleh kemenangan diatas Kubu orang-orang Yahudi yang sangat masyhur di Khaibar. Kawasan tanah mereka yang jatuh ketangan Islam dibagikan kepada para mujahidin yang ikut serta didalam peperangan itu. Tanah yang dibagikan itu adalah kawasan yang sangat subur sekali, terdiri dari kebun-kebun kurma yang sangat bagus. Ketika sudah sampai musim panen kurma dan sampai kepada pembagian hasil buah-buahannya sesuai dengan peraturan pembagiannya, Hazrat Abdullah Bin Suhail telah telah pergi bersama anak paman beliau bernama Maisah untuk membagikannya. Sampai disana mereka berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Ketika Hazrat Abdullah Bin Suhail pergi dari sana ke suatu tempat dan meyendiri beliau telah dibunuh oleh seseorang tak dikanal. Mayat beliau dibuang kedalam sebuah lubang. Kejadian itu sungguh jelas kemungkinan pembunuh beliau itu orang Yahudi. Hazrat Abdullah Bin Suhail orang sangat baik dan terkenal dikalangan para sahabah, tidak mungkin orang Islam yang telah membunuh beliau. Besar sekali kemungkinan orang Yahudilah yang telah membunuh beliau itu. Bagaimanapun masalah itu sampai kepada Nabi Muhammad saw. Tuduhan pembunuhan ditujukan terhadap orang-orang Yahudi dan memang betul demikian. Hazrat Rasulullah saw telah bertanya kepada Muhisah saudara sepupu Abdullah Bin Suhail: Apakah engkau berani bersumpah bahwa orang-orang Yahudi yang telah membunuh ? Beliau jawab : “Saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri saya tidak berani bersumpah.” Maka Hazrat Rasulullah saw bersabda : “ Sekarang akan diambil sumpah dari orang-orang Yahudi, apakah mereka yang telah membunuh Abdullah Bin Suhail itu? Orang-orang Yahudi menyatakan diri bersih tidak membunuhnya.” Maka Muhisah berkata kepada Hazrat Rasulullah saw : “Apa buktinya kita percaya kepada perkataan orang-orang Yahudi ini, mereka berani mengucapkan sumpah palsu walaupun seratus kali ?” Akan tetapi oleh karena keadilan yang dituntut, maka jika orang-orang Yahudi telah bersumpah biarkan mereka bersumpah.” Segala biaya kematian Abdullah Bin Suhail akhirnya dipenuhi dari Baitul Mal. Demikianlah keadilan yang beliau tegakkan. Beliau tidak meninggalkan keadilan didalam sisi kehidupan bagaimanapun. Jika ditinjau dari sisi apapun maka akan nampak contoh yang sangat baik (uswah hasanah) Hazrat Rasulullah saw.

Keadilan yang telah saya beri contoh didalam kehidupan Hazrat Rasulullah saw begitu tinggi jauh berbeda dengan keadilan masa sekarang yang kita saksikan setiap hari yang dilakukan oleh mereka yang berpakaian jubah sangat seram, mereka mengadakan majlis besar-besar miladun Nabi. Didalam majlis Miladun Nabi itu selain dari pada menghina dan mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan nada keras dan kotor tidak ada acara lain lagi didalam perayaan miladun nabi merela itu. Mereka mengangungkan khataman nubuwwat dengan kata-kata yang muluk-muluk keluar dari mulut mereka, dan dengan mulut mereka itu juga mereka menghina Hazrat Masih Mau’ud a.s. dengan kata-kata tidak wajar dan biadab. Kemudian bandingkanlah bagaimana caranya sahabah r.a. itu yang telah memberi tarbiyyat. Sekalipun mereka menjadi saksi dan menyaksikan keadaan pada waktu itu akan tetapi oleh karena tidak melihat dengan mata kepala sendiri beliau tidak berani bersumpah. Akan tetapi pada zaman sekarang orang-ini orang-orang yang mengenakan jubah besar-besar dan seram itu, menda’wakan diri pembela Islam sambil menyatakan sumpah mengajukan orang-orang Ahmadiyah ke meja pengadilan. Mereka pergi kekantor polisi memberi kesaksian palsu di hadapan mereka, pernyataan yang sangat keji dilakukan oleh mereka, sambil mengeluarkan kata-kata busuk dari mulut mereka. Hati mereka kosong dari rasa takut terhadap Tuhan. Jika orang-orang ini menapak diatas jalan uswah hasanah Hazrat Rasulullah saw pasti mereka akan merasa takut terhadap Tuhan. Muhisah yang mengatakan tentang sumpah orang-orang Yahudi katanya, “Apa buktinya kita percaya kepada orang-orang Yahudi, mereka akan bersumpah seratus kali” sekarang tengoklah perkataan itu betul-betul tepat jika dinisbahkan kepada orang-orang berjubah seram ini.

Semoga Alah swt mengasihani orang-orang muslim yang bersih hati yang juga telah menjadi mainan orang-orang yang menamakan diri para Ulama berjubah itu. Dan mereka telah bersepadu dengan orang-orang yang menamakan diri Ulama itu karena permainan lidah mereka yang telah memukau pikiran mereka. Allah swt telah melarang bahwa orang-orang muslim tidak boleh menumpahkan darah sesama muslim lainnya. Sedangkan pada zaman sekarang orang-orang ini menumpahkan darah orang-orang muslim lain dengan cara yang sangat kejam seperti menyembelih seekor binatang yang tidak beharga. Hazrat Rasulullah telah memberi nasihat terakhir pada kesempatan Hajjatul Wada (Hajj terakhir) beliau bersabda : “Bagi kalian untuk menjaga kehormatan darah sesama muslim dan menjaga harta benda mereka wajib seperti wajibnya kalian menjaga kehormatan hari dan bulan yang mulia ini.” Sabda beliau itu telah meletakkan tanggung jawab seseorang terhadap yang lain. Atau menjaga darah dan harta sesama orang muslim. Sekarang apa yang tengah terjadi, di Pakistan hampir setiap hari terjadi seorang menamakan diri muslim merampok harta orang Islam lainnya, harta orang-orang Ahmadi dirampok atas nama Islam. Padahal Hazrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah adalah orang muslim.

Semoga Allah swt mengasihani orang-orang muslim ini dan semoga Dia memberi taufiq kepada mereka untuk menjadi orang-orang yang benar berjalan diatas uswah hasanah Hazrat Rahmatul lil Alamin, Rasulullah saw supaya mereka menjadi pewaris kasih sayang Allah swt. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjalani kehidupan sesuai dengan uswah hasanah Hazrat Rasulullah saw. Amin !

Alihbahasa dari audio urdu oleh Mln. Hasan Basri

Khutbah jum’ah Hazrat Khalifatul Masih v atba.tanggal 13 Maret 2009 dari Baitul Futuh London, U.K. Tentang : Memperingati Siratun Nabi yakni Kehidupan Suci Rasulullah saw

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated on Wednesday, 31 March 2010 20:55
 
 

Unduhan Cinta-Islam

Populer di Cinta-Islam

powered by camp26

Donasi kepada Cinta-Islam

Catatan untuk Pengunjung

  1. Situs Cinta-Islam ini adalah situs web yang Independen dan tidak mengatasnamakan organisasi manapun.
  2. Tim Cinta-Islam bertanggung jawab penuh atas isi halaman web ini.
  3. Silakan Mengutip isi website ini, dengan menyertakan URL atau alamat sumber artikel yang dikutip. Minimal menyertakan kata "Cinta-Islam.web.id"
  4. Mengenai ketentuan pengutipan ayat Alquran didalam Cinta-Islam --sesuai dengan sabda Yang Mulia, Rasulullah saw-- maka basmalah dihitung sebagai ayat pertama. Selengkapnya, silakan disimak penjelasannya pada artikel Rahasia Basmalah
  5. Terakhir, Kami sangat berterimakasih atas kunjungan dan komentar dari saudara-saudara sekalian.

Jazakumullah ahsanal Jaza, dan terima kasih atas kunjungannya.

Statistik Pengunjung Cinta-Islam

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini708
mod_vvisit_counterKemarin2433
mod_vvisit_counterMinggu ini7693
mod_vvisit_counterMinggu Lalu39668
mod_vvisit_counterBulan ini30401
mod_vvisit_counterBulan Lalu129260
mod_vvisit_counterSemuanya1501515

We have: 26 guests, 6 bots online
IP Anda: 38.107.191.110
 , 
Hari ini: Sep 09, 2010

Pengunjung Cinta-Islam

Ranking Alexa utk Cinta-Islam

Back Link

Blognya Abunaweed

banner Coretan Dinding M'Bud

Cinta-Islam - Blogged