|
Allah Ta'ala berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil selain Allah penolong-penolong adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya selemah-lemah rumah ialah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui..” (Al-Ankabut : 42)
Di dalam ayat tersebut bisa diambil poin bahwa:
- Orang yang menjadikan 'sandaran hidup' selain Allah Ta'ala, sama saja dengan menyandarkan diri kepada sesuatu yang lemah, layaknya sarang laba-laba yang rapuh.
- Orang-orang tersebut hanya melihat manfaat duniawi yang sifatnya hanya sementara saja. Sedangkan jika menyandarkan diri kepada Allah Ta'ala, maka layaknya ia menyandarkan diri kepada sesuatu yang kokoh lagi kuat.
- Dikisahkan pula (dalam ayat Alquran yang lain) bahwa kaum yang menyandarkan diri kepada duniawi dan tidak mau bersandar kepada Allah Ta'ala, maka lama-lama kaum tersebut akan dibinasakan oleh-Nya dan akan digantikan dengan kaum yang ta'at kepada-Nya. kaum-kaum itu antara lain: Âd dan Tsamûd.
- Dimisalkan juga kaum yang menyandarkan diri kepada 'tuhan palsu' (misalnya: Fir'aun dan Haman), maka ia dan pengikutnya juga akan dibinasakan.
- Kekuasaan, jabatan, kekuatan fisik, maupun harta-benda tidak berarti apa-apa dihadapan Allah Ta'ala. Oleh karena itu orang yang menyandarkan hidupnya kepada hal yang 'lemah' dan 'fana' itu lama-kelamaan akan hancur. Misalnya, [dikisahkan dalam Alquran bahwa] orang-orang yang menyandarkan diri kepada harta-benda, seperti Qarun, dan menganggap Allah Ta'ala tidak berarti apa-apa maka harta-benda itu tidak akan bisa menyelamatkannya dari azab, seperti Firman-Nya:
“Maka karena itu Kami membenamkannya Qarun, beserta rumahnya ke dalam bumi, dan tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (Al-Qashas:82)
Huzur V atba bersabda:
"Jadi Allah Ta’ala berkali-kali secara khusus menarik perhatian orang-orang Islam kepada hal tersebut. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Ciptakanlah di dalam kalbu kalian rasa takut yang hakiki pada Allah Ta’ala. Jadikanlah Allah Ta’ala itu sebagai perisai kalian. Senantiasa ingatlah bahwa wujud yang hidup kekal dan memiliki segenap kekuatan semata-mata hanya Dzat Allah Ta’ala. Karena itu anggaplah sarana keselamatan kalian hanya Dia semata. Manfaatkanlah sarana-prasarana yang ada, tegakkan hubungan, ambillah manfaat dari hubungan itu, hal ini tidak diragukan lagi, dibenarkan dan perlu. Sarana-prasarana juga merupakan alat yang telah disiapkan Allah Ta’ala dan menjalin ikatan-ikatan sosial kemasyarakatan di antara sesama, menunaikannya, meminta dan memberikan bantuan dalam menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah Allah Ta’ala buat adalah penting untuk kelanggengan sosial kemasayarakatan. Tetapi pemikiran ini jangan sampai pernah ada di dalam diri seorang mukmin, yakni, janganlah timbul dalam pikiran bahwa relasi-relasi dan sarana-sarana demikian itu merupakan segala-segalanya. Sandaran sejati adalah Dzat Allah Ta’ala dan hendaknya ini senantiasa menjadi perhatian. Jika tidak ada (sandaran) Allah Ta’ala, maka tidak ada pertolongan-Nya, maka relasi-relasi dan hubungan-hubungan lahiriah tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun. Di dalam surah pertama Al-Quran Karim Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah do’a kepada seorang mukmin untuk mencapai kedudukannya dan cara meraih mekanisme kerja. Maka [selalulah] bacalah doa ini:
--iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin--
Hanya Engkau kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. (QS. Alfatihah:5)
Lalu beliau atba bersabda
"Dan dasar pelajaran agama adalah menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala dan tatkala hal ini merupakan tujuan, maka adalah tugas seorang yang jujur untuk mencari Allah Ta’ala. Di dalam Al-Quran, Allah Ta’ala secara khusus memerintahkan kepada orang mukmin bahwa ‘melangkahlah ke arah-Ku’. Berusahalah mengamalkan terhadap perkara-perkara yang telah Allah Ta’ala tetapkan wajib bagi seorang mukmin. Oleh karena itulah para nabi datang dan inilah tugas orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala serta para wali. Dan untuk melanjutkan maksud dari kedatangan para nabi, inilah juga tujuan dari kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as.
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:
“Allah Ta’ala telah mengutusku ke dunia supaya dengan cara yang santun, akhlak mulia dan lemah lembut aku menarik orang-orang yang telah jauh dari Tuhan kepada petunjuk-petunjuk-Nya yang suci. Dan Dengan nur yang telah Dia berikan kepadaku, aku melangkahkan orang-orang di atas jalan dengan sinar terang-Nya.” (Taryaqul Qulub, Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 143)
Kemudian beliau a.s. bersabda:
“Untuk itu aku telah diutus supaya memperkuat iman dan memperlihatkan bukti keberadaan Wujud Allah Ta’ala kepada manusia. Karena kondisi keimanan setiap bangsa sudah menjadi sangat lemah dan kehidupan alam akhirat hanya dianggap sebuah kisah belaka. Dan setiap manusia dengan keadaan amalnya, tengah memberitahu bahwa dirinya sedemikian rupa menempatkan keyakinan, keagungan dan martabat kepada dunia dan dia sedemikian rupa bergantung terhadap sarana-sarana duniawi ini dan sama sekali tidak yakin dan bergantung terhadap Allah Ta’ala dan alam akhirat. Di lidah mereka banyak mengungkapkan keyakinan kepada Allah Ta’ala tetapi di dalam hati didominasi oleh kecintaan dunia. Jadi aku diutus supaya zaman kebenaran dan zaman iman itu datang kembali serta timbul ketakwaan di dalam kalbu” (Kitabul Bariyah, Ruhani Khazain, jilid 13, catatan kaki 291-293)
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
Katakanlah, ‘Apakah akan aku jadikan yang lain sebagai pelindung selain Allah, Yang menciptakan seluruh langit dan bumi padahal Dia Yang memberi makan dan Dia tidak diberi makan, “ Katakanlah, “ Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama menyerahkan diri.’ Dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang-orang musyrik.” (Al-An’am 15)
Dari ayat tersebut bisa diambil beberapa hal:
- Allah Ta'ala adalah pemilik Alam Semesta; langit dan bumi! maka sangat bodoh orang yang meninggalkannya dan mencari sandaran kepada makhluk-Nya (manusia yang lain) untuk mencari keuntungan duniawi yang tidak ada artinya di hadapan Allah.
- Padahal Allah Ta'ala-lah yang memberikan makan kepada Manusia. Maka bersandarlah kepada Allah Ta'ala. Dan jangan Menyandarkan diri kepada manusia.
- Maka datanglah kepada Alllah Ta'ala. Dia berjanji (di dalam Alquran) --ud'uuni astajib lakum-- 'Mintalah (sesuatu) kepada-Ku maka Aku akan memberikannya--
Huzur V atba bersabda :
Jadi datanglah kepada perlindungan Tuhannya. "Setiap orang mukmin hendaknya memahami bahwa 'beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan tujuan saya'. Menyampaikan keperluan-keperluannya di hadapan Allah Ta’ala, ini merupakan tuntutan dari kebijaksanaan seorang mukmin dan seorang insan. Oleh karena itu, selain ketaatan sepenuhnya kepada Tuhannya dan tidak ada jalan lain dan orang-orang yang semacam itu, mereka itulah yang pada hakikatnya merupakan para wali (sahabat) Allah Ta’ala"
Selanjutnya beliau atba bersabda:
"Carilah rezeki Allah Ta’ala yang kekal abadi. Berusahalah untuk menjadi wali (sahabat) Allah Ta’ala. Jangan bersahabat dengan orang-orang duniawi dikarenakan ketamakan pada harta dunia. Dan janganlah kalian sedemikian rupa cenderung kepada harta dunia, sehingga menjadikan kalian lupa kepada Allah Ta’ala. Ingatlah selalu bahwa kekayaan duniawi yang tengah tampak pada kalian hari ini, akibatnya tidak baik."
Bagaimana Cara Kita Bisa Menjadi Menjadi Sahabat Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan tetaplah mengamalkannya. Kami tidak meminta kepada engkau rezeki, Kami-lah Yang memberi rezeki engkau. Dan akibat yang baik bagi mereka yang bertakwa.” (Thaha :133)
Huzur V bersabda:
"Untuk meningkatkan keadaan ruhani sendiri, untuk menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala, kalian sendiri hendaknya memberikan perhatian terhadap shalat dan nasihatilah keluarga kalian untuk mengamalkannya. Tentang hal ini Allah Ta’ala telah berfirman, dan sebagaimana mengenai rezeki telah disebutkan sebelumnya, inilah yang diterangkan bahwa sumber rezeki itu datangnya dari Allah Ta’ala. Seorang mukmin tatkala menaruh perhatian terhadap ibadah, maka di mana Allah Ta’ala memberikan rezeki zahiriah kepadanya, di sana dia terus mendapatkan kemajuan juga dalam rezeki ruhaninya. Hubungannya dengan Allah Ta’ala bertambah meningkat. Di dalam dirinya timbul qonaah (merasa selalu berkecukupan). Pandangannya tidak tertuju pada kekayaan orang lain, setiap saat perhatiannya tertuju kepada Allah Ta’ala. Dan manakala situasi ini yang akan terjadi, maka akan timbul kemajuan dalam ketakwaan dan Allah Ta’ala sendiri cukup bagi orang yang muttaqi dalam setiap urusan. Dia menganugerahkan kepadanya dari tempat-tempat yang sedemikian rupa, dari mana dia sama sekali tidak menyangka. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran Karim bahwa orang yang bertakwa setiap saat senantiasa berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Dia tidak menghiraukan kekayaan orang lain dan kekuatan mereka."
Terakhir, marilah kita selalu berdoa dan berusaha agar kita bisa menjadi sahabat Allah Ta'ala. Amin.
(Dikutip dari Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad tgl 20 November 2009, Di Baitul Futuh, London, U.K.)
|
Semoga kita semua diberikan petunjuk untuk menjadi sahabat Allah Ta'ala yang hakiki. Amin.