Facebook Page: 125863886166 Tumblr: cinta-islam Twitter: cinta_islam External Link: isamujahid.wordpress.com
 
Halaman Utama Artikel Cinta Islam Islam Cuplikan-Cuplikan Khotbah Idul Adha
Cuplikan-Cuplikan Khotbah Idul Adha
Written by Admin   
Wednesday, 24 February 2010 19:14
Share/Save/Bookmark

Kisah Keluarga Nabi Ibrahim(a.s.)

Idul Adha adalah memperingati peristiwa atas kecintaan sejati kepada Tuhan yang diperlihatkan oleh Hadhrat Ibrahim (a.s.) lebih kurang 4000 tahun yang lalu. Sejak itu, hasil dari peristiwa tersebut dunia tengah menyaksikan hingga hari ini. Seorang anak laki-laki dilahirkan di Negeri Urr, lebih kurang 4000 tahun yang silam di sebuah rumah seorang pembuat berhala. Dan ia tumbuh dewasa di suatu keluarga yang siang-malam cenderung dalam perkumpulan menyekutukan Tuhan dan menyembah berhala-berhala. Namun anak ini terlahir dengan hati yang diterangi nur Ilahia dan   memandang jijik terhadap berhala-berhala semenjak masa kanak-kanaknya.

Tuhan Yang Maha Melihat dan Yang meliputi semua mata telah memilih anak ini - Hadhrat Ibrahim(a.s.) - dan menganugrahinya dengan karunia-Nya. Di masa kemudian Hadhrat Ibrahim(a.s.) diangkat menjadi seorang nabi oleh Allah yang memerintahkan beliau untuk mengorbankan putra beliau - Hadhrat Ismail(a.s.) - supaya pondasi ketakwaan, kesucian, dan kesolehan bisa ditegakkan di suatu tempat yang jauh dari tempat tinggal umat manusia di bawah perlindungan dan pengawasan Tuhan.

Hadhrat Ibrahim(a.s.) bersedia mematuhi perintah Tuhan untuk meninggalkan putra beliau di lembah yang tandus, di mana di tempat itu tidak ada makanan dan air. Beliau (a.s.) meninggalkan putra dan istri beliau di suatu lembah yang berbahaya dan mengerikan dengan tujuan semata-mata supaya nama Tuhan menjadi mulia dan agung. Dan keagungan serta kebesaran Tuhan pun [dapat] dibangun kembali. Beliau(a.s.) meninggalkan mereka di belantara gurun dengan sekantung air minum dan beberapa buah kurma. Ketika itu Hadhrat Ibrahim(a.s.) sendiri berpikir bahwa air dan beberapa buah kurma mereka akan segera habis sedangkan di lembah itu tidak tersisa suatu apa pun selain butiran-butiran pasir dan sinar matahari bagi istri dan putranya. Beliau(a.s.) meneteskan air mata dengan perasaan haru dan diliputi  perasaan emosi.

Perjuangan Hadhrat Hajar(r.a.)

Perhatikanlah! Hadhrat Hajar(r.a.) menyadari bahwa masalah ini merupakan suatu perkara yang serius. Ketika Hadhrat Ibrahim(a.s.) pulang kembali, kemudian Hadhrat Hajar(r.a.) mengikutinya dan berkata, "Wahai Ibrahim. Mengapa engkau tinggalkan kami? Di sini tidak ada air untuk minum dan tidak ada makanan untuk dimakan." Hadhrat Ibrahim(a.s.) sebenarnya ingin menjawab. Namun perasaan emosinya semakin meningkat, sehingga tidak dapat berbicara. Kemudian Hadhrat Hajar(r.a.) berkata, "Apakah engkau meninggalkan kami di sini atas perintah Tuhan atau atas keinginan engkau sendiri?" Lalu, Hadhrat Ibrahim(a.s.) menengadahkan tangannya ke arah langit - barangkali maksudnya bahwa beliau(a.s.) melakukan semua ini di bawah perintah Tuhan. Jawaban beliau(a.s.) penuh dengan keimanan dan keteguhan.

Hadhrat Hajar(r.a.) hanya memiliki seorang putra di mana pada saat itu putranya pun dalam keadaan terkekang oleh kematian terhalang untuk berbuat sesuatu. Pada suatu ketika beliau berkata, "Apakah dengan sebab perkara ini, kemudian Tuhan tidak akan membinasakan kami." Akhirnya, keduanya mulai kehabisan air dan makanan.

Kemudian Hadhrat Hajar(r.a.) tidak dapat menahan perasaan melihat pemandangan atas keadaan yang sukar bagi putranya yang sedang meronta-ronta ditekan oleh rasa haus. Ia mulai mendaki sebuah bukit dengan harapan barangkali ada orang atau beberapa rumah yang akan dapat terlihat dari sana. Atau mungkin dari orang-orang itu ia bisa memperoleh sedikit air. Akan tetapi tidak tersisa sedikit pun air yang tampak sejauh mata memandang. Lalu ia turun kembali ke bawah dalam keadaan khawatir dan kemudian mendaki bukit yang lain lagi] Di sana pun ia tidak menemukan tanda-tanda adanya air.

Mata Air Zam-Zam Dan Kafilah Yang Tersesat

Dalam keadaan yang mengkhawatirkan dan dipenuhi penderitaan, Hadhrat Hajar(r.a.) naik turun bukit sebanyak tujuh kali. Hingga akhirnya, hatinya mulai tertekan/terpukul dan ia berpikir, "Apakah gerangan yang akan terjadi pada putranya?" Tiba-tiba turun wahyu dari Tuhan, "Hajar, Tuhan telah menyediakan air untuk putramu, pergi dan lihatlah dia!" Hadhrat Hajar kembali untuk melihat putranya dan ia menemukan sebuah mata air sedang memancar keluar di dekat kaki putranya. Mata air yang keluar ini dengan nama Zam-zam yang artinya sebuah nyanyian kegembiraan. Mungkin Hadhrat Hajar sendiri yang memberi nama mata air itu Zam-Zam sebagai air yang disediakan bagi beliau. Dan pada waktu itu adalah kesempatan untuk menyanyikan lagu dalam kegembiraan serta mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan putranya dari kematian karena kehausan. Maka Tuhan telah menyediakan air dalam cara demikian.

Sekarang timbul pertanyaan bagaimana tentang makanannya? Pada suatu ketika ada sebuah kafilah yang tersesat dari jalan dan kafilah itu tiba di tempat tersebut. Semua anggota kafilah itu  tamtpak sangat membutuhkan air. Mereka minta izin kepada Hadhrat Hajar untuk tinggal di sana dan menjadi warganya. Hadhrat Hajar pun mengizinkannya dan mereka pun]mulai menetap di sana sebagai warga Hadhrat Hajar dan putranya. Kemudian Tuhan menjadikan Hadhrat Ismail(a.s.) sebagai raja sebelum ia tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda. (HR Bukhari).

Makna Dari Pengorbanan Hadhrat Hajar(r.a.)

Untuk memperingati peristiwa ini bahkan hingga sekarang bahwa seseorang yang [melaksanakan] ibadah Haji harus naik turun bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Lari-lari kecil ini menandakan suatu keteguhan hati untuk mengikuti langkah kaki Hadhrat Hajar(r.a.) dan ini merupakan suatu pernyataan bahwa kami pun jika diwajibkan tidak akan ragu-ragu untuk mengorbankan orang yang dekat dengan kami dan orang yang dicintai demi kepentingan Tuhan.

Pendeknya, ibadah haji merupakan suatu ibadah yang sangat penting. Lalu jika seseorang pergi ke Makkah melaksanakan semua aturan ibadah haji dengan sempurna. Maka orang itu akan menyadari bagaimana keadaan seseorang yang melakukan pengorbanan demi kepentingan Tuhan bahwa ia senantiasa hidup selamanya.

Id Sejati Dalam Kegembiraan Hati

Id yang sejati dilakukan dalam bentuk kegembiraan hati. Dan kegembiraan itu disebabkan oleh ketenangan. Dan ketenangan itu dihasilkan oleh kebebasan dari rasa ketakutan. Dan seseorang tidak bisa bebas dari ketakutan, kecuali ia yakin dengan sungguh-sungguh bahwa ia telah memiliki seorang penjaga dan pelindung yang tidak ada seorang pun dapat menjumpainya. Tuhan sendiri dapat menjadi wujud penjaga dan pelindung. Suatu kali Id yang sejati ditampilkan dalam bentuk keyakinan bahwa Tuhan ridha atasnya. Dan sebagai akibatnya, Dia akan menjadi pelindungnya dalam segala macam kondisi.

Jadi, manusia hendaknya berusaha untuk memperoleh Id sejati yang tidak tahu penghentiannya dan selalu bersama dengan-Nya dalam keadaan duduk, berdiri, tidur atau bekerja. Seorang manusia yang telah memiliki Id sedemikian rupa adalah sesungguhnya ia telah diberkati dengan kesenangan, kepastian dan ketenangan.

Semoga Allah menganugrahkan kepada kita Id sejati tanpa formalitas. Id adalah seperti obat yang diberikan kepada para pasien untuk menyembuhkan penyakitnya yang sementara. Kebahagiaan sejati datang ketika penderitaan itu tidak dapat sirna hingga seseorang itu meyakini bahwa Tuhan selalu bersamanya. (Khutbah Idul Adha, Agustus 1915).

Id Sarana Untuk Mencapai Tuhan

Id mengandung realisasi tentang Wujud Tuhan. Dan orang yang berusaha mencapai Tuhan, tentu dia berhasil dalam usaha dan pencapaiannya meraih kegembiraan dan kebahagiaan yang abadi. Islam - dengan menetapkan ibadah puasa - telah mengajarkan suatu pelajaran, bahwa pengorbanan secara jasmani sangat diperlukan dalam perjuangan meraih kebahagiaan. Pada kesempatan Id yang kedua, orang-orang Islam mengorbankan binatang-binatang ternak dalam mengenang kesiap-sediaan Hadhrat Ibrahim(a.s.) untuk menyembelih putranya demi perintah Tuhan.

Penyembelihan hewan-hewan ternak - pada kesempatan itu - memperagakan semangat si penyembelih, bahwa dia tidak akan ragu-ragu mengorbankan hidupnya demi Tuhan jika diperlukan. Inilah arti penting dari Id yang Islami. Perayaan-perayaan dari agama-agama yang lain tidak memiliki arti ini. Id mereka dapat diibaratkan dengan kebahagiaan seseorang yang bersifat sementara dan khayalan kepada rupa patung kekasihnya. Akan tetapi Id yang Islami membimbing orang-orang Islam [ke] sepanjang jalan yang membawanya ke pintu Sang Kekasihnya. Dan sambil menyibak tirai mengatakan, "Di sanalah kekasihmu, berusahalah lebih keras lagi, laluilah pintu itu dan jumpailah Dia." Kebahagiaan seseorang yang hanya memandang sebuah patung kekasihnya yang tidak bernyawa, segera berubah menjadi rasa kekecewaan. Namun, kebahagiaan orang yang telah berjumpa dengan kekasihnya tentu jauh lebih agung dan lebih nyata.

Pendek kata, Id kita ini menunjuki kita ke jalan yang benar dengan mengikuti Tuhan, yang kita sendiri dapat menyaksikan-Nya. Oleh karena yang dimaksud dengan Id adalah Pencapaian Tuhan, dan maksud pencapaian kepada-Nya itu tidak ada jalan lain melainkan melakukan pengorbanan untuk-Nya. Apabila kita merenungi maksud Id ini, Id kita akan menjadi Id yang hakiki, atau [sebaliknya] kebahagiaan yang semu hanya akan menambah duka-cita. (Khutbah Idul Adha, Juli 1919)

Id Hakiki Sumber Mata Air Kebenaran

Orang-orang Islam dapat memiliki Id yang hakiki hanya apabila mereka mengambil pelajaran dari Id ini. Dan mencoba dengan cara terbaik yang mereka miliki untuk mendapatkan kembali wibawa dan kemuliaan mereka yang hilang, kesolehan dan kesucian, kebajikan dan kebenaran, kedudukan serta kehormatan. Jika dengan argumen dan alasan yang baik serta ilmu pengetahuan dan amalan, mereka akan membuktikan bahwa tidak ada orang yang dapat menyangkal argumen-argumen Islam, maka mereka (orang Islam) akan berhak atas Id yang sejati. Dan hari itu akan nyata menjadi hari Id yang hakiki dan kebahagiaan yang nyata bagi mereka. Dan Id ini terbentang luas]di kalangan seluruh umat manusia supaya menjadi sumber mata air kebenaran. Maka semua orang boleh meminum darinya. Kebenaran yang Allah telah turunkan kepada Rasul-Nya yang Karim(s.a.w.), dan untuk menyebarkannya, Allah Ta'ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau'ud(a.s.) di zaman ini. (Khutbah Idul Adha, Juni 1918)

Tugas Memerangi Setan Di Zaman Ini Dan Dua Macam Id

Tugas yang diamanatkan kepada kita di zaman ini adalah lebih agung dari pada seseorang yang dipercaya untuk sejumlah umat dalam beberapa masa. Tugas kalian adalah memerangi setan. Hadhrat Masih Mau'ud(a.s.) telah dibangkitkan pada masa ketika seluruh dunia berada dalam genggaman setan. Maksudnya, kalian ini orang-orang yang lemah, tetapi dengan sekuat tenaga kalian dapat menaklukkan hati manusia. Para pengikut nabi yang mana pun telah ditugaskan untuk memerangi setan, padahal tugas yang demikian itu tidak menguntungkan. Tentu tugas]memerangi setan tersebut telah diamanatkan kepada Rasul Karim(s.a.w.). Akan tetapi tugas tersebut akan disempurnakan di masa kedatangannya yang kedua.

Tugas ini tentunya melalui kekuatan ruhaninya. Akan tetapi itu disediakan bagi mazhar (manifestasi)-nya yang kedua. Maka pengorbanan yang diperlukan untuk pekerjaan besar ini tidak ada bandingannya dengan masa lalu. Namun pengorbanan kalian bahkan sekarang ini tidak sederajat dengan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan oleh para pengikut awal Nabi Isa(a.s.). Maka saya memohon kepada saudara-saudara untuk membuka pikiran mereka untuk melakukan pengorbanan yang belum pernah terjadi. Tanpa itu tidak akan menjadi Id yang hakiki. Semoga Allah melalui kemurahan-Nya memberikan kita kesempatan untuk memiliki kedua Id, yaitu Id yang dicapai melalui pengorbanan dan usaha serta [Id] yang dianugrahkan oleh Tuhan sendiri sebagai suatu hadiah. (Khutbah Idul Adha, Mei 1925)

(Penerjemah: Hizbul Fikr/Jamiah - CSN & BA)

Narasumber: Diterjemahkan dari Review Of Religions, Volume LXI, No. IV, April 1967, halaman 5-9.

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
 

Unduhan Cinta-Islam

Populer di Cinta-Islam

powered by camp26

Donasi kepada Cinta-Islam

Catatan untuk Pengunjung

  1. Situs Cinta-Islam ini adalah situs web yang Independen dan tidak mengatasnamakan organisasi manapun.
  2. Tim Cinta-Islam bertanggung jawab penuh atas isi halaman web ini.
  3. Silakan Mengutip isi website ini, dengan menyertakan URL atau alamat sumber artikel yang dikutip. Minimal menyertakan kata "Cinta-Islam.web.id"
  4. Mengenai ketentuan pengutipan ayat Alquran didalam Cinta-Islam --sesuai dengan sabda Yang Mulia, Rasulullah saw-- maka basmalah dihitung sebagai ayat pertama. Selengkapnya, silakan disimak penjelasannya pada artikel Rahasia Basmalah
  5. Terakhir, Kami sangat berterimakasih atas kunjungan dan komentar dari saudara-saudara sekalian.

Jazakumullah ahsanal Jaza, dan terima kasih atas kunjungannya.

Statistik Pengunjung Cinta-Islam

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini3473
mod_vvisit_counterKemarin5303
mod_vvisit_counterMinggu ini37881
mod_vvisit_counterMinggu Lalu67155
mod_vvisit_counterBulan ini193902
mod_vvisit_counterBulan Lalu107433
mod_vvisit_counterSemuanya1330856

We have: 23 guests, 30 bots online
IP Anda: 38.107.191.114
 , 
Hari ini: Jul 30, 2010

Pengunjung Cinta-Islam

Ranking Alexa utk Cinta-Islam

Back Link

Blognya Abunaweed

banner Coretan Dinding M'Bud

Cinta-Islam - Blogged